PALANGKA RAYA- Saban musim banjir, beberapa bangunan sekolah di Palangka Raya terkena dampak. Baik itu bangunan, maupun akses menuju sekolah yang terendam air. Melihat fenomena tahunan itu, Wali Kota Palangka Raya Fairid Naparin memiliki pemikiran akan memindahkan tempat belajar mengajar itu ke tempat yang lebih aman.

Salah satu sekolah yang menjadi langganan banjir itu adalah SDN 1 Petuk Katimpun. Lokasinya berada di bantaran sungai. Selain menjadi langganan banjir, bangunan sekolah juga sudah uzur. Dinding-dinding sudah tampak keropos termakan usia.

"Sekolah itu (SDN 1 Petuk Katimpun, red) saat ini kami dari Pemerintah Kota Palangka Raya mencari solusi supaya anak-anak di sana bisa belajar tanpa hambatan ketika musim hujan,” ungkap Fairid beberapa hari lalu.

Untuk itu, Pemko rencananya akan mencarikan lahan di lokasi dekat dengan Kantor Kelurahan Petuk Katimpun. "Mudah-mudahan nanti tidak ada kendala, kita bisa realisasikan, supaya anak-anak tidak lagi bersekolah waktu banjir harus menyusuri kawasan itu pakai kelotok ataupun perahu, yang berpotensi bisa mengancam keselamatan," bebernya.

Kalteng Pos mencoba meminta tanggapan dari warga terkait wacana pemindahan sekolah di sana. Sebagian warga ada yang setuju, dan ada yang tidak. Tanda, salah satu warga yang tidak setuju atas pemindahan SDN 1 Petuk Katimpun. Ia mengaku tidak menginginkan apabila SDN 1 Petuk Katimpun dipindahkan. Apabila lagi pindahnya jauh dari permukiman warga di bantaran anak Sungai Kahayan itu. Penolakan ini berdasarkan karena kesusahan untuk mengantar anaknya berangkat sekolah.

"Kami tidak sepakat kalau ini (Sekolah, red) dipindahkan. Kami tidak mau mengantarkan anak kami jauh-jauh,”ujar Tanda, yang mengemban amanah menjadi penjaga sekolah, Sabtu (12/11).

“Kalau memang pindah, yang saya berhenti saja jadi penjaga sekolah," tambahnya.

Sementara itu, Kepala SDN 1 Petuk Katimpun, Lendang, mengaku rencana itu belum sampai ketelingannya. "Belum tahu, pernah ada rencana pemindahan beberapa bulan lalu, tapi itu sekolah dasar di Kompleks Mendawai dan SDN 1 Petuk Katimpun aman saja tidak terdengar akan dipindah," katanya.

Jikalau memang benar, Lendang akan menerima dengan bijak. SDN 1 Petuk Katimpun, sebutnya, tak hanya memiliki problem beberapa titik bangunan yang sudah tampak usang. Tetapi, problem lain adalah kekurangan guru yang mengajar. Maka tidak heran para murid tidak belajar, bahkan hingga ia harus turun tangan masuk kelas untuk ikut mengajar.

"Di sini juga kekurangan, kalau ada satu atau dua guru yang berhalangan, maka bisa dipastikan banyak murid yang tidak menerima pelajaran," tambah Ledang.

Fairid sebelumnya juga mengetahui jika ada warga setempat yang menginginkan anak-anaknya sekolah lebih dekat. Tapi, pemerintah juga bertanggung jawab memfasilitasi anak-anak belajar di tempat yang layak dan nyaman.

 "Intinya apa yang menjadi masukan dari masyarakat akan kita tampung, akan kita usahakan, salah satunya sarana pendidikan yang layak itu, maka dari itu kita merencanakan sekolah itu nanti agar tidak disana lagi, murid-murid bisa belajar nyaman dan aman," harapnya. (ena/irj/ram)