Sebanyak 149 orang tewas dalam tragedi perayaan Halloween di sebuah distrik hiburan di Itaewon, Seoul, Korea Selatan. Mereka tewas setelah berdesak-desakan dan terinjak-injak di tengah 100 ribu orang yang hadir.

Bagaimana dan mengapa lonjakan massa berubah menjadi mematikan? Tak hanya di Korea, kerumunan pernah terjadi di sebuah festival musik di Houston, sebuah stadion sepak bola di Inggris, selama ziarah haji di Arab Saudi, di sebuah klub malam Chicago, dan pertemuan lainnya yang tak terhitung jumlahnya. Di Indonesia, terjadi pula tragedi di Stadion Kanjuruhan, Malang, Jawa Timur baru-baru ini di mana para supporter sepak bola berdesakam saat keluar stadion. Kerumunan besar melonjak menuju pintu keluar mendorong kekuatan sampai terinjak dan mati.

Dan itu terjadi lagi, selama perayaan Halloween di ibukota Korea Selatan, Seoul. Jalan sempit menyebabkan lebih dari 140 orang tewas dan 150 lainnya terluka. Risiko kecelakaan tragis seperti itu, yang surut ketika tempat-tempat ditutup dan orang-orang tinggal di rumah karena pandemi Covid-19, telah kembali.

Bagaimana orang bisa sampai mati di acara ini? Kenyataannya kebanyakan orang yang mati dalam kerumunan orang mati lemas. Orang-orang mati berdiri dan mereka yang jatuh mati karena tubuh di atasnya memberikan tekanan sedemikian rupa sehingga sulit bernapas. “Ketika orang berjuang untuk bangun, lengan dan kaki terpelintir bersama. Suplai darah mulai berkurang ke otak,” kata profesor tamu ilmu kerumunan di University of Suffolk di Inggris, G. Keith Still, mengatakan kepada NPR setelah Astroworld lonjakan massa di Houston November lalu. “Dibutuhkan 30 detik sebelum Anda kehilangan kesadaran, dan sekitar 6 menit, Anda mengalami asfiksia (gagal napas) kompresif atau restriktif. Itu umumnya penyebab kematian yang dikaitkan, tidak hancur, tetapi mati lemas,” tambahnya seperti dilansir dari PBS, Minggu (30/10).

Kesaksian Saksi Mata Orang-orang yang selamat menceritakan kisah-kisah tentang terengah-engah, terdorong lebih dalam kerumunan. Mereka putus asa untuk melarikan diri dan memanjat. Mereka terjepit di pintu yang tidak mau terbuka dan pagar yang tidak mau terbuka. “Para korban yang selamat secara bertahap dideskripsikan, tidak bisa bergerak, kepala mereka terkunci di antara lengan dan bahu orang lain, wajah terengah-engah, panik,'” menurut sebuah laporan.

Setelah pandemi, kerumunan itu kembali. Ini akibat euforia yang membuat masyarakat haus dengan pertunjukkan dan berkumpul dalam satu kerumunan acara. (jpc)