PALANGKA RAYA-Hujan yang masih mengguyur beberapa wilayah Kalteng mengakibatkan terjadinya banjir di sejumlah daerah. Bencana alam ini terjadi di delapan kabupaten/kota. Lima di antaranya sudah menetapkan status tanggap darurat banjir. Puluhan ribu jiwa terdampak banjir musiman ini (selengkapnya pada tabel).

Berdasarkan data terbaru, ada delapan kabupaten/kota terdampak banjir. Yakni Kabupaten Katingan, Pulang Pisau (Pulpis), Palangka Raya, Sukamara, Barito Selatan (Barsel), Lamandau, Kotawaringin Timur (Kotim), dan Kotawaringin Barat (Kobar).

Plt Kalaksa Badan Penanggulagan Bencana dan Pemadam Kebakaran (BPBPK) Kalteng Falery Tuwan mengatakan, per Senin (19/9) lima kabupaten sudah menetapkan status tanggap darurat banjir. Yakni Kabupaten Kobar, Kotim, Katingan, Lamandau, dan Seruyan.

“Ada lima kabupaten yang sudah menetapkan status tanggap darurat banjir, sejauh ini masih bisa ditangani oleh masing-masing kabupaten,” ucap Falery Tuwan saat dikonfirmasi, Selasa (20/9).

Dikatakannya bahwa Pemkab Katingan sudah menetapkan status tanggap darurat banjir selama 14 hari, terhitung sejak tanggal 13 hingga 26 September. Ada tujuh kecamatan yang terdampak banjir, meliputi Kecamatan Katingan Tengah, Tasik Payawan, Senaman Matikei, Kamipang, Katingan Hilir, Pulau Malan, dan Tewang Sanggalang Garing. “Ada 7 kecamatan yang terendam banjir, meliputi 34 desa, dan berdampak pada 1.278 kepala keluarga (KK), 2.148 jiwa, dan 966 rumah warga,” katanya.

Sementara itu, bencana banjir di Kabupaten Pulpis berdampak pada 3 kecamatan. Yakni Kecamatan Banama Tingang, Kahayan Tengah, dan Jabiren Raya. Di wilayah Kota Palangka Raya, 4 kecamatan terendam banjir. Meliputi Kecamatan Pahandut, Kecamatan Jekan Raya, Kecamatan Sabangau, dan Kecamatan Bukit Batu.

“Banjir terjadi sejak 8 September lalu, data hingga kemarin (Senin, red) debit air di masing-masing kelurahan sudah menunjukkan penurunan,” jelasnya.

Falery menambahkan, banjir di Kabupaten Sukamara terjadi sejak 13 September lalu dan merendam wilayah Kecamatan Sukamara. Di Barsel, banjir terjadi di wilayah Kecamatan Bintang Awai, Desa Sei Paken, Desa Tamparak Layung, Tabak Kanilan, dan Desa Tamaparak, Kecamayan Dusun Utara.

Sedangkan banjir di Kabupaten Lamandau merendam 4 kecamatan, meliputi 14 desa, 3804 KK, 2.484 jiwa, dan 707 rumah terdampak. Tercatat ada 30 KK dan 86 jiwa terpaksa mengungsi. Pemkab Lamandau sudah menetapkan status tanggap darurat banjir sejak 14 hingga 23 September atau selama 10 hari.

Sementara itu, banjir di Kabupaten Kotim melanda delapan wilayah kecamatan.

“Pemkab Kotim juga sudah menetapkan status tanggap darurat banjir dari tanggal 5 hingga 19 September 2022 atau terhitung selama 14 hari,” tuturnya.

Bergeser ke Kabupaten Kobar, ada 5 kecamatan terdampak, 24 desa, 2.423 unit rumah, 2.696 KK, dan 8.974 jiwa. Pemkab Kobar pun sudah menetapkan status tanggap darurat banjir.

“BPB-PK Kalteng terus melakukan koordinasi dengan BPBD kabupaten untuk memastikan masyarakat yang terancam dan terdampak banjir mendapat pelayanan yang layak,” ucapnya.

Sementara itu, Kepala BPBD Kota Palangka Raya Emy Abriani mengatakan, dalam kondisi banjir seperti sekarang ini, pihaknya terus melaksanakan kegiatan rutin administrasi dan pelaporan, pengendalian, dan pengoperasian petugas piket BPBD Kota Palangka Raya, monitoring dan koordinasi dengan dinas terkait, pengecekan armada dan perlengkapan posko, melaksanakan pemantauan dan monitoring ke wilayah kelurahan rawan bencana, dan memantau perkembangan debit aliran Sungai Kahayan dan Sungai Rungan.

“Peringatan dini bagi masyarakat, waspadai potensi naiknya debit air di pemukiman sekitar bantaran Sungai Kahayan dan Sungai Rungan,” ucapnya.

“Kami juga melakukan pemantauan lokasi untuk mendirikan posko kesehatan, posko pengungsian, dan posko relawan serta pemantauan instalasi listrik,” tambahnya.

Sementara itu, luapan air Sungai Katingan akibat tingginya curah hujan sejak awal September lalu, menggenangi sejumlah wilayah di Kabupaten Katingan. Bahkan saat ini ada tiga kecamatan yang terendam dan telah berstatus tanggap darurat banjir. Yakni Kecamatan Katingan Hilir, Tasik Payawan, dan Kamipang.

 

“Tanggap darurat untuk tiga kecamatan ini kami tetapkan sejak 13 September 2022 lalu hingga 14 hari ke depan,” kata Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Katingan Roby kepada Kalteng Pos, Selasa (20/9).

Dikatakannya, status Kecamatan Katingan Hilir atau wilayah Kota Kasongan akan dievaluasi dan segera dicabut, sehingga kembali menjadi siaga banjir. Evaluasi ini dilakukan karena banjir di ibu kota Kabupaten Katingan ini sudah surut.

“Kecuali di daerah dataran rendah wilayah Kelurahan Kasongan Lama, ada titik tertentu yang masih tergenang,” bebernya.

Sementara di wilayah Kecamatan Tasik Payawan, lanjutnya, genangan air masih bertahan. Begitu juga di wilayah Kecamatan Kamipang. Bahkan banjir sudah masuk ke wilayah Desa Tumbang Bulan, Kecamatan Mendawai. “Di Desa Tumbang Bulan ini banjir sudah menggenangi jalan desa,” ujarnya.

Dengan adanya status tanggap darurat ini, Pemerintah Kabupaten Katingan mendirikan dua tenda pengungsian. Yakni di Kecamatan Tasik Payawan dan Kecamatan Kamipang. Selain itu, lanjut mantan Kabag Umum Setda Katingan ini, bantuan sembako pun sudah disalurkan untuk masyarakat yang terdampak bencana.

“Ada bantuan dari pemerintah desa, TNI, Polri, dan Dinas Sosial Kabupaten Katingan, kemarin kami juga menerima bantuan dari Balai Wilayah Sungai Kalimantan II dan akan kami salurkan ke wilayah hilir sesuai permintaan mereka,” terangnya.

Roby menyebut, hingga saat ini belum ada warga yang mengungsi, karena memilih tetap bertahan di rumah masing-masing, dengan cara membuat katil atau panggung di dalam rumah. “Padahal kami sudah menyiapkan tenda pengungsian,” ucapnya.

Untuk mengantisipasi hal-hal yang tak diinginkan terjadi, BPBD Kabupaten Katingan terus mengimbau kepada masyarakat untuk selalu waspada.

“Kelihatannya banjir kali ini memang tidak terlalu tinggi, tapi bertahan cukup lama, beda dengan banjir besar dulu, debit airnya tinggi, tapi cepat surut, tapi kali ini air bertahan cukup lama, apalagi curah hujan masih sangat tinggi,” tandasnya.

Bergeser ke Kotawaringin Timur (Kotim), hampir dua pekan banjir terjadi. Banjir saat ini merupakan yang terbesar dibandingkan tahun-tahun sebelumnya, karena hampir setiap hari terjadi hujan dengan intensitas cukup tinggi.

Camat Parenggean Siyono mengatakan, sebelumnya banjir yang melanda beberapa desa di Kecamatan Parenggean sudah mulai surut. Namun karena dalam dua hari belakangan curah hujan tinggi, debit air meningkat kembali. Ada lima desa dan satu kelurahan di Kecamatan Parenggean yang terendam banjir dengan ketinggian mencapai 1 meter lebih.

“Beberapa hari lalu banjir mulai surut sekitar 10 sentimeter, tetapi masyarakat dimbau untuk tetap waswas, karena curah hujan masih tinggi, tidak tertutup kemungkinan debit air naik lagi, kami terus memantau kondisi di Kecamatan Perenggean ini,” ucap Siyono, Selasa (20/9).

Dikatakannya, sebagian besar korban banjir memilih bertahan di rumah masing-masing dengan membuat apar-apar atau semacam panggung dalam rumah agar tetap bisa beraktivitas selama banjir belum surut. Petugas kesehatan pun terus berkeliling memantau kondisi masyarakat.

“Kalau ada yang mengeluh sakit, langsung ditangani oleh petugas kesehatan setempat, karena selama banjir terjadi, warga sering mengalami gatal-gatal, makanya petugas kesehatan selalu siaga,” sebutnya.

Siyono mengatakan, pada Senin (19/9) ia mendampingi petugas dari Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang Kabupaten Kotim untuk menangani keadaan darurat di jalan poros Parenggean kilometer 17 menuju Tumbang Sangai, Kecamatan Telaga Antang yang putus akibat banjir sehingga memicu kemacetan lalu lintas.

“Kemarin (Senin, red) saya mendampingi petugas dari dinas PUPR menangani jalan yang putus agar dapat dilewati kembali, bekerja sama dengan perusahaan,” ucap Siyono.

Selain di Kecamatan Parenggean, banjir parah juga melanda Kecamatan Kota Besi. Ada lima desa yang masih terendam. Yakni Desa Rasau Tumbuh, Sorenya, Pamalian, Palangan, dan Simpur.

“Kalau melihat curah hujan selama dua hari ini yang kembali meningkat, genangan air pasti meningkat lagi, khusus di Desa Hanjalipan yang posisinya paling rendah dan paling parah dilanda banjir, hingga hari ini warga tidak dapat beraktivitas,” ucap Camat Kota Besi Gusti Mukafi.

Ia menuturkan, saat ini ada belasan keluarga yang terpaksa mengungsi ke rumah kerabat. Koordinasi terus dilakukan untuk memastikan pelayanan kesehatan dan bantuan kebutuhan pokok bagi korban banjir.

“Di Desa Hanjalipan juga disiapkan semacam rumah lumbung sosial, posisinya lebih tinggi daripada bangunan lain, sehingga dapat menampung semua bantuan, termasuk bantuan obat-obatan, kami terus meningkatkan koordinasi untuk pelayanan kesehatan maupun pemenuhan kebutuhan bahan pokok warga,” ucapnya.

Sementara, Kepala BPBD Kabupaten Kotim Rihel SSos mengatakan, data yang terima dari BPBD kecamatan per Senin (19/9) pukul 20.50 WIB, banjir cukup parah melanda wilayah Kecamatan Parenggean. Meliputi Kelurahan Parenggean dengan jumlah 500 KK terdampak, Desa Bajarau 125 KK, Desa Menjalin 50 KK, Desa Kabuau 142 KK, dan Desa Tehang 40 KK.

“Di Kecamatan Mentaya Hulu meliputi Desa Baampah 81 KK, 234 jiwa, dan 72 rumah; Desa Penda Durian 112 KK, 296 jiwa, 102 rumah; Desa Tangar 23 KK, 92 jiwa, 17 rumah; Desa Kawan Batu 50 KK, 205 jiwa, 45 rumah; Desa Satiung 8 KK, 35 jiwa, 8 rumah,; Desa Pahirangan 15 KK, 62 jiwa dan 12 rumah,” beber Rihel.

Di Kecamatan Kota Besi, banjir melanda Desa Hanjalipan dengan jumlah terdampak 440 KK dan 1.742 jiwa. Kecamatan Telawang meliputi Desa Muara Ubar, Tanjung Bantur, dan Penda Durian.

“Kami terus memonitor ke lapangan, diharapkan kepala desa atau camat terus meningkatkan koordinasi dengan BPBD sehingga apapun yang menjadi kendala bisa secepatnya diatasi,” tuturnya.

Di wilayah Kotawaringin Barat, banjir makin meluas. Bahkan hampir tiap kecamatan terdampak. Tak sedikit warga yang terpaksa mengungsi. Hujan yang turun hampir tiap hari membuat air Sungai Arut dan Sungai Lamandau meluap. Bahkan saat ini tercatat ada 13.110 KK terdampak. Hal itu dibenarkan Kepala BPBD Kobar Sahruni, Selasa (20/9).

Berdasarkan prakiraan BMKG, beberapa hari ke depan masih berpotensi turun hujan dengan intensitas sedang hingga tinggi. Tentunya genangan air akan mengalami kenaikan. Sejauh ini pemerintah sudah melakukan berbagai upaya untuk membantu masyarakat. Salah satunya dengan menyalurkan bantuan sembako dan obat-obatan.

“Kami sudah melakukan pendataan dan pengecekan warga yang terdampak banjir. Kami mengimbau agar tetap waspada dan berhati-hati, utamakan keselamatan jiwa,” kata Sahruni.

Terpisah, Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Kobar Suyanto menegaskan, penanganan banjir yang dilakukan pemerintah saat ini bukan terlambat, tapi memang bencana banjir ini tidak serentak terjadi. Karena itu, para petugas yang melakukan penanganan pun silih berganti bekerja. Anggaran dan bantuan pemerintah tentunya selalu siap dan tersedia. “Kami pastikan stok bantuan untuk penanganan banjir mencukupi, kami sudah berupaya maksimal agar masyarakat yang terdampak bencana benar-benar diperhatikan,” pungkasnya. (abw/eri/bah/son/ce/ala)