PALANGKA RAYA-Pemilihan gubernur (pilgub) memang baru akan digulirkan pada 2024 mendatang. Namun sejumlah nama sudah digadang-gadang bakal berkontestasi. Sejauh ini sudah ada lima nama kuat yang diprediksi maju sebagai bakal calon gubernur (cagub). Tidak tertutup kemungkinan akan ada banyak tokoh lain yang ikut bertarung pada pesta demokrasi lima tahunan itu.

Nama yang sejauh ini ramai diperbincangkan sebagai calon kontestan pemilihan kepala daerah (pilkada) adalah kader PDIP H Agustiar Sabran dan Perdie M Yoseph. Agustiar merupakan Anggota Komisi III DPR RI dan juga Ketua DAD Kalteng. Sedangkan Perdie M Yoseph merupakan Bupati Murung Raya (Mura) dua periode dan dinilai punya peluang untuk maju. Bahkan namanya sempat disebut Gubernur Kalteng H Sugianto Sabran pada malam penutupan Musabaqah Tilawatil Qur'an dan Hadist (MTQH) XXX, akhir Juli lalu.

“Untuk Pak Perdie saya doakan semoga bisa mencalonkan diri menjadi Gubernur Kalteng nanti, amin,” ucap Gubernur Kalteng H Sugianto Sabran saat itu.

Kemudian figur lain yang beberapa pekan terakhir banyak mendapat dukungan untuk maju adalah H Abdul Razak. Kader senior Partai Golkar ini mendapat dukungan dari kader, nonkader, serta dari berbagai organisasi.

Sosok selanjutnya adalah Bupati Barito Utara (Batara) dua periode, H Nadalsyah. Bupati yang akrab disapa Koyem ini berhasil menaikkan pamor Partai Demokrat di Kalteng. Selain itu, namanya juga popular hingga kancah nasional setelah memimpin Asosiasi Sepak Bola Wanita Indonesia (ASBWI) pusat. Inilah yang membuat namanya digadang-gadang ikut berkontestasi pada pilgub 2024 mendatang.

 

Berikutnya ada nama kontentas Pilgub 2020, Ben Brahim S Bahat. Bupati Kapuas dua periode ini dinilai masih memiliki pendukung yang cukup militan untuk memperjuangkannya bertarung pada pilgub mendatang.

Seiring mulai ramainya kemunculan figur yang digadang-gadang maju pada pilgub mendatang, pengamat politik Jhon Retei Alfri Sandi mengatakan, ancang-ancang harus sudah dilakukan untuk menyusun strategi dan promosi, karena bakal calon yang bermunculan sudah memiliki popularitas sendiri. Rata-rata nama yang muncul merupakan figur berpengaruh dan punya kapabilitas dalam memimpin.

“Melalui promosi ini menunjukkan eksistensi diri mereka, dalam beberapa waktu ke depan bisa mendorong diri mereka agar masyarakat tahu rekam jejak dan prestasi yang sudah dicetak,” kata Jhon Retei saat berbincang dengan Kalteng Pos, Senin (19/9).

Menurutnya, keberhasilan dan pencapaian dalam memimpin daerah masing-masing bisa dikemas kembali dan ditampilkan, sehingga masyarakat bisa bersimpati dengan program-program yang diusung nanti. Untuk itu perlu adanya tim pemenangan yang dibentuk di beberapa kabupaten/kota, sehingga komunikasi politik bisa diperluas. Sebab, berbicara tentang kekuatan massa dalam pemilihan gubernur, pastinya tidak bisa hanya mengharapkan suara dari basis wilayah masing-masing.

“Siapa pun orangnya, sejak sekarang ini harus sudah ada tim-tim kecil yang dibentuk di beberapa wilayah, karena kita bicara tentang pencalonan gubernur, contohnya saja yang terjadi oleh cagub Ben Brahim dan Ujang saat itu, Kapuas kan punya jumlah masyarakat terbanyak nomor dua di Kalteng, tapi saat itu beliau (Ben Brahim) kalah di wilayah yang harusnya jadi basis,” ucap Jhon Retei.

Berkaca dari pengalaman tersebut, tentu perlu ada evaluasi oleh tim-tim yang dibentuk, sehingga hal serupa tidak terulang pada pilkada 2024 nanti. Begitu juga yang harus di lakukan oleh kepala daerah lain, seperti Nadalsyah dan Perdie. Harus bisa mengoptimalkan suara di daerah DAS Barito.

Menurut Jhon, nilai psikologis juga punya pengaruh kuat dalam kontestasi ini. Seperti apa pandangan dan penilaian masyakat terhadap sosok yang akan maju sebagai kontestan. Contohnya, Agustiar Sabran dikenal sebagai kakak kandung Gubernur Sugianto Sabran. Tentu ini menjadi nilai plus. Jika strategi seperti ini bisa digunakan, tentu akan bisa menekan pembiayaan yang dikeluarkan.

“Kembali lagi kepada mereka yang merupakan kader partai, harus bisa menggunakan mesin-mesin tersebut,” ucapnya.

Jhon Retei yang juga merupakan wakil dekan bidang akademik FISIP UPR mengatakan, semua calon memiliki tambatan partai masing-masing. “Karena sebagai kader partai, para calon pastinya berharap diusung oleh partainya, itu menjadi catatan pertama,” tuturnya.

Jhon juga menerangkan, secara umum jumlah kursi partai tidak berbeda jauh. Merujuk kursi di DPRD provinsi, hanya PDIP yang bisa menyokong calon sendiri tanpa berkoalisi. “Lantas muncul pertanyaan; siapa yang bakal diusung siapa, pastinya tergantung dari perolehan kursi legislatif pada tahun 2024 nanti, karena itu sangat menentukan,” tambahnya.

Ia menambahkan, partai politik yang bisa menyosong calon sendiri seharusnya menjadi pimpinan poros apabila memutuskan berkoalisi. Sedangkan untuk partai yang belum bisa, harus bisa membentuk koalisi yang kuat.

Disinggung soal nama-nama lain yang juga berpotensi muncul, menutur Jhon, politik itu dinamis. Sangat tergantung pada sosok. Selain itu, perihal keterwakilan juga akan turut memengaruhi. Bahkan bisa berpengaruh terhadap nama-nama lama.

Dukungan untuk H Abdul Razak juga datang dari tokoh masyarakat sekaligus anggota DPRD Kalteng dari dapil III, Ir H Wisman. Menurut Wisman, Abdul Razak merupakan sosok ayah yang mampu menuntun dan mengayomi seluruh kader dan pengurus partai. Abdul Razak juga memiliki segudang pengalaman di dunia perpolitikan dan birokrasi.

“Saya cukup lama mengenal H Abdul Razak. Bagi saya, beliau bagaikan ayah yang mampu mengayomi dan mengurus kader dan pengurus partai. Terlebih pengalaman beliau di kancah politik dan birokrasi cukup banyak, tidak perlu diragukan lagi,” kata Wisman.

Ia menilai H Abdul Razak sebagai sosok visioner yang selalu mengedepankan beragam gagasan demi kemajuan daerah. “Saya berani berbicara seperti ini, bukan karena kami seirama dan sesama anggota Partai Golkar, melainkan karena saya sudah mengenal sosok H Abdul Razak sejak kuliah, bahkan pernah sama-sama bekerja di dinas kehutanan,” bebernya. (*irj/pra/ce/ala)