Ribuan ikan di Sungai Lamandau, tepatnya di Desa Kujan ditemukan mati mendadak. Kematian beraneka ikan itu dinilai janggal, lantaran terjadi secara beruntun dalam beberapa hari terakhir. Diduga kematian ikan-ikan tersebut disebabkan tercemarnya air sungai oleh limbah pabrik pengolahan kelapa sawit yang berada di sekitar Desa Kujan. Salah seorang warga yang tinggal di bantaran Sungai Lamandau membenarkan perihal kematian ikan dalam jumlah banyak beberapa hari terakhir.

“Ini bukan kejadian yang pertama, mas. Sudah beberapa kali terjadi. Tiap air pasang atau hujan deras, banyak ditemukan ikan yang mati. Ada juga ikan yang masih hidup, tapi mengambang di atas permukaan sungai,” kata salah seorang warga yang enggan disebutkan namanya, Selasa (21/6). Sumber yang sama menyebutkan, sepengetahuannya warga yang tinggal di sepanjang Sungai Lamandau tidak pernah dan tidak berani meracuni ikan sungai. Karena ia juga merupakan pencari ikan, maka ia tahu betul siapa saja yang mencari ikan dan alat tangkap yang digunakan. Kecurigaan warga soal adanya limbah pabrik yang mencemari sungai bukan tak berdasar.

Untuk diketahui, sebelumnya pabrik kelapa sawit (PKS) milik PT Sumber Adinusa Lestari (PT SAL) di Desa Kujan, Kecamatan Bulik, Kabupaten Lamandau pernah disegel oleh aparat dari Ditreskrimsus Polda Kalteng pada medio 2017 lalu karena terkait masalah limbah pabrik. “Dugaan kami memang karena pencemaran air sungai. Jangankan limbahnya, bau limbahnya saja sejak beberapa tahun lalu sampai saat ini masih dikeluhkan warga. Kalau jangka pendek mungkin tidak terasa, tapi kami tidak tahu jangka panjangnya bagaimana, yang jelas sangat mengganggu sekali,” jelasnya. Menanggapi hal tersebut, Humas PT SAL Husnul Maarif Lubis saat dikonfirmasi awak media, mengaku sudah melakukan pengecekan bersama dinas lingkungan hidup (DLH) setempat, guna memastikan tidak ada tanggul limbah atau instalasi pembuangan air limbah (IPAL) yang bocor ataupun meluap usai hujan deras yang mengguyur wilayah Kabupaten Lamandau beberapa waktu lalu.

“Kami sudah cek lokasi IPAL, hasilnya tidak ada kebocoran, semuanya normal,” kata Husnul saat dikonfirmasi wartawan, Selasa (21/6). Namun untuk memastikan penyebab sesungguhnya kematian ikan di sungai, pihaknya sudah mengambil sampel ikan untuk dilakukan uji laboratorium. “Samplenya sudah kami ambil, tetapi memang belum dikirim untuk dilakukan uji laboratorium, karena masih mencari tempat pengujiannya yang pas, kemungkinan akan dikirim ke Palangka Raya,” sebutnya. Sementara itu, Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Lamandau Sunarto masih belum memberikan keterangan resmi perihal masalah ini. Awak media yang mencoba mengonfirmasi ke kantor DLH tidak bisa menemui pimpinan, karena sedang melaksanakan kunjungan kerja. Begitu pun dengan pesan singkat yang dikirimkan melalui WhatsApp, belum direspons. (ia/ce)