PALANGKA RAYA – Kalimantan Tengah menjadi sasaran empuk jaringan pengedar narkoba, terutama jenis sabu. Barang haram itu terus dipasok untuk memenuhi kebutuhan para pecandu. Selama Maret-April, Polda Kalteng dan jajaran Polres menggagalkan 7.104,79 gram sabu. Diduga sabu yang beredar terkait dengan sindikat internasional.

Sabu yang disita berasal dari 46 kasus dengan 59 tersangka. Pengungkapan dilakukan Ditresnarkoba Polda Kalteng, Polresta Palangka Raya, Katingan, Kotim, Kobar, Lamandau, Barito Utara, Kotawaringin Barat, dan wilayah lainnya. Bahkan, ada sabu yang berbentuk kemasan seberat satu kilogram.

Kapolda Kalteng Irjen Pol Nanang Avianto mengatakan, gagal edarnya sabu tersebut telah menyelamatkan 213.143 jiwa warga Kalteng dari penyalahgunaan narkoba. Jika diuangkan, nilainya mencapai Rp 10 miliar lebih dengan asumsi harga sabu per gram berkisar Rp 1,5 juta-Rp 2 juta.

Menurut Nanang, jaringan barang haram tersebut terus berinovasi dalam menjalankan bisnisnya. Hal itu terlihat dari modus pelaku yang membungkus sabu dengan kemasan kaleng pakan burung dan teh untuk mengelabui petugas. Pengirimannya dilakukan melalui jalur laut.

Nanang menambahkan, dari penyelidikan, peredaran sabu tersebut terkait dengan jaringan internasional dan lintas provinsi. Pemain lama masih berperan besar. Meski ditangkap dan telah dipenjara, bandar sabu masih bisa mengendalikan bisnis haram tersebut.

Ada dua jalur yang biasanya digunakan sindikat barang haram itu. Yakni, melalui Pontianak ke Lamandau, Pangkalan Bun, Sampit, Katingan, dan Palangka Raya. Kemudian, jalur Banjarmasin ke Palangka Raya, Gunung Mas, Bartim, Barsel, Batara, Murung Raya, Kapuas, dan Pulang Pisau.

Sejumlah tersangka diringkus di Kotim, di antaranya Roni Paslah dan Lianki. Mereka diamankan di Jalan Sukabumi. Kemudian, Muhammad Lendy (47) diamankan di Jalan Jenderal Sudirman; Lumut (35) diamankan Jalan H Imran, Asmar (46) ditangkap di Jalan HM Arsyad.

Kemudian, tangkapan dari Polres Kobar, Anton Primay, Nurul Khotimah, dan Verdijanto alias Bawak. Mereka dibekuk di Jalan Trans Kalimantan dengan barang bukti 4 kilogram lebih sabu.

Selain sabu, lanjut Nanang, pihaknya juga mengamankan 12,87 gram tembakau gorila, obat daftar G 1.053 butir, dan ekstasi 24,5 butir. Seluruh barang bukti itu dimusnahkan, yang disaksikan perwakilan Kejaksaan, BNNP Kalteng, dan Balai BPOM, Jumat (22/4) di Mapolda Kalteng.

”Peredaran narkotika di Kalteng sudah meningkat. Maka itu saya imbau kepada masyarakat untuk menjaga generasi muda jangan sampai ikut ajakan pengguna narkoba. Jika ada informasi peredaran narkoba, langsung laporkan. Kami 24 jam siap menerima dan menindaklanjuti informasi tersebut,” ujarnya.

Lebih lanjut Nanang mengatakan, pihaknya akan mengawasi ketat pintu masuk jalur peredaran barang haram tersebut. ”Pintu masuk ke Kalteng harus diperketat dan kami konsisten mengungkap peredaran sabu. Saya pun pastikan tidak ragu mengambil tindakan tegas kepada para pelaku,” ujarnya.

Direktur Reserse Narkoba Polda Kalteng Kombes Pol Nono Wardoyo mengatakan, barang bukti yang dimusnahkan merupakan tangkapan Ditresnarkoba Polda Kalteng sebanyak 1,743,29 gram, Polres Palangka Raya 146,7 gram, Katingan 44,62 gram, Kotim 412,94 gram, Kobar 354,67 gram, Lamandau 4.251,99 gram, dan Polres Batara 150,56 gram.

”Kami akan terus berupaya memberantas lebih banyak lagi,” tegasnya.

Nono mengatakan, tersangka yang ditangkap terdiri dari kurir dan sebagian besar pengedar serta bandar. Modus baru yang berhasil diungkap pihaknya, yakni menyimpan sabu di dalam pakan ternak. ”Modus baru itu dilakukan dari (pasokan sabu) Pontianak dan Banjarmasin,” tuturnya.

Menurut Nono, Kalteng merupakan pangsa pasar sindikat narkoba. Meskipun jumlah penduduk Kalteng ini tak banyak, namun permintaan barang haram itu semakin meningkat.

”Sudah jadi pangsa pasar. Apalagi Kalteng ini banyak pertambangan dan sawit. Ada indikasi para pelaku diduga dikendalikan dari dalam Lapas, meskipun mereka sudah ditangkap. Seperti di Lamandau, kurir yang diamankan mengaku dikendalikan narapidana,” ujarnya. (daq/ign)