Kondisi cuaca di Kota Madinah cukup sejuk. Mungkin ini juga yang menjadi salah satu alasan pihak agen travel umrah memilih kota ini sebagai tempat karantina jemaah. Hayah Golden Hotel menjadi pilihan tempat menginap sekaligus karantina. Lokasinya sangat strategis. Hanya selemparan batu dari Masjid Nabawi.

 

 

 HUSRIN A LATIF, Madinah

 

 

SAYA dan tiga jemaah PT Raihan Alya Tour menempati kamar nomor 304 di Hayah Golden Hotel. Berada di lantai 3. Menjalani karantina di dalam satu hotel bintang 4 ini, saya dan jemaah lainnya merasa bersyukur. Setelah penantian panjang dua tahun, akhirnya kami bisa berangkat umrah. Menginjakkan kaki di Tanah Suci.

Tidak banyak aktivitas yang dilakukan di kamar hotel. Selama menjalani masa karantina, kami tidak diperbolehkan keluar dari area hotel dengan 10 lantai tersebut. Meskipun tidak bisa pergi ke mana-mana, pihak agen travel umrah PT Raihan Alya Tour selalu stand by 24 jam melayani keperluan jemaah.

Mulai kelengkapan handuk, melaporkan ketika kondisi WC bermasalah, laundry pakaian, menyediakan tempat menyeduh air untuk sekadar membuat kopi dan teh, membeli roti, membeli obat-obatan, menukarkan mata uang Riyal, hingga mengaktifkan paket roaming internasional.

Semua mutawif atau pendamping jemaah selalu sigap menyikapi permintaan jemaah. Jadi tidak perlu repot-repot lagi keluar kamar hotel untuk memenuhi kekurangan selama masa karantina. Karena secara aturan, jemaah wajib menjalankan karantina dan PCR, untuk memastikan setiap warga negara asing yang masuk Arab Saudi benar-benar bebas Covid-19. Apalagi sekarang ini sedang merebaknya varian Omicron.

"Mohon maaf selama karantina kami sarankan jangan ada yang keluar hotel. Nanti berisiko sama orang banyak. Apalagi lagi bapak ibu mau PCR 2 kali di Madinah. Takut ketahuan wazarotul haji,” demikian seruan Haidiri Maulayah, salah satu mutawif.

Seruan itu ditegaskan ketika ada beberapa jemaah yang meminta izin untuk keluar hotel dan turun ke lantai bawah.

“Mohon para jemaah jangan ada yang keluar ke bawah (lobi hotel, red) demi keamanan bersama,” tambah mutawif lain, Yasir Habibi.

Jemaah pun langsung menuruti seruan tersebut, mengingat masa karantina belum berakhir. Dan itu untuk mencegah agar tidak ada jemaah yang terpapar. Mengingat hotel ini tidak hanya ditempati jemaah PT Raihan Alya Tour saja, melainkan juga tamu dari kota-kota di Arab Saudi.

Selama menjalani masa karantina, menu makan pun sangat bersahabat. Dalam sehari tiga kali makanan diantar ke kamar masing-masing. Sarapan pagi, makan siang, dan makan malam. Menu yang disajikan bervariasi tiap harinya. Ada nasi kuning, kare ayam, ikan peda goreng, hingga daging kambing. Kuahnya pun bervariasi. Ada sayur bening dan lodeh. Semuanya cocok di lidah dan perut. Kemudian sebagai pelengkapnya, ada buah apel, jeruk, dan pisang.

Selama masa karantina, kami juga hanya bisa beribadah di dalam hotel. Salat Subuh dan Magrib dilaksanakan berjemaah di lorong hotel lantai 3 dan dipimpin langsung Ustaz HM Al-Ghifari. Di lorong hotel cukup untuk dua shaf jemaah. Sedangkan untuk salat wajib lainnya dilaksanakan di kamar masing-masing.

“Nanti setelah masa karantina selesai, kita akan melaksanakan ibadah di Masjid Nabawi,” kata Ustaz HM Al-Ghifari.

Hotel tempat kami menjalani karantina, lokasinya sangat strategis. Jaraknya hanya selemparan batu dari Masjid Nabawi. Kami bisa melihat dengan jelas halaman masjid megah itu. Setiap pukul 06.00 waktu Arab Saudi, mentari terbit dengan begitu indah. Kehangatannya terasa begitu lembut menembus kaca jendela.

Dari jendela yang sama ini, kami melihat jemaah silih berganti keluar masuk ke masjid. Setiap selesai azan berkumandang, manusia yang berjalan di halaman masjid datang dari segala penjuru. Tidak hanya saat salat wajib saja. Ketika azan berkumandang tanda waktu untuk melaksanakan salat Tahajud, tampak banyak umat muslim yang berbondong-bondong menuju Masjid Nabawi.

Selain melihat antusias umat muslim menunaikan salat wajib lima waktu, kami juga bisa menyaksikan dan melihat langsung keindahan Masjid Nabawi. Kala terbuka dan tertutupnya payung besar di masjid itu. Payung akan terbuka setelah salat Subuh dan akan tertutup kembali menjelang salat Magrib. Payung besar tersebut berfungsi untuk menaungi jemaah dari terik matahari.

Anggap saja cuci mata. Mengurangi kebosanan dalam kamar.

Padahal, kaki ini sudah tak sabar melangkah ke sana. Tak sabar bersujud dan berdoa kepada Yang Maha Kuasa. Namun untuk sementara, mungkin cukup bagi saya memandang dari balik jendela kamar. (ce/ram)