Dermaga yang dulunya merupakan tempat pelabuhan bongkar muat barang dan orang, bahkan sempat menjadi tempat yang tidak ada aktivitas, kini berkat ide kreativitas masyarakat setempat, telah menjadi objek wisata berkelas dunia.

MUHAMMMAD HAFIDZ, Palangka Raya

Kawasan Wisata Air Hitam Dermaga Kereng Bangkirai merupakan kawasan objek wisata yang menjadi primadona bagi masyarakat Kota Palangka Raya, Kalimantan Tengah. Destinasi wisata ini berada di wilayah Kelurahan Kereng Bangkirai, Kecamatan Sabangau. Kawasan ini sudah  pernah dikunjungi wisatawan dari lokal maupun mancanegara. Hal tersebut dikarenakan kawasan tersebut berlokasi yang berdampingan dengan Taman Sebangau.

Cukup dengan merogoh kocek Rp5.000, pengunjung bisa memasuki kawasan wisata Dermaga Kereng Bangkirai dengan pemandangan air hitam perairan Sungai Sebangau tersebut. Ada berbagai macam cara untuk menikmati indahnya pemandangan sungai tersebut. Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Kereng Bangkirai menyedikan jasa getek, bebek mesin, dan pondok terapung dengan merogoh kocek sebesar Rp20.000. Kemudian untuk  bebek gowes dengan biaya Rp30.000.

Adapula fasilitas lainnya yang dibangun pemerintah bagi pengunjung menikmati alam sekitar, seperti gazebo dan pusat kuliner.Sedangkan pusat cenderamata masih belum dibuka. Bagi yang suka selfie atau foto-foto dan mengunggahnya ke media sosial seperti Instagram dan lain-lain, maka destinasi wisata ini tidak akan mengecewakan. Karena banyak spot-spot untuk berfoto ria yang sangat Instagramable. Kawasan Dermaga Kereng Bangkirai ini semula dibangun dari kreativitas masyarakat di sekitar Kereng Bangkirai tersebut. Dulunya kawasan Dermaga Kereng Bangkirai merupakan tempat pelabuhan bongkar muat barang dan orang.

“Banyak kapal dari Surabaya dari Jawa yang datang kesini membawa bawang, Mangga, sapi, hingga semen yang bongkar muat disini,” kata Ketua Pokdarwis Kereng Bangkirai, Sabran M Usin kepada prokalteng.co, Minggu (27/2) Menurut Sabran Usin, sejak kejadian kerusuhan yang diperkirakannya terjadi sekitar tahun 2002, saat itu tidak ada lagi kapal yang masuk beraktivitas di dermaga tersebut.

Sehingga Dermaga Kereng Bangkirai pada saat itu menjadi daerah tidak ada aktivitas pelabuhan lagi. Lanjutnya pada tahun 2012, masyarakat di wilayah  tersebut memiliki ide kreatif dengan membangun pondok terapung. Pondok terapung tersebut dimodifikasi dengan mesinnya agar bisa berjalan dengan pelan.

“Kemudian di dalamnya ada makanan dan minuman, orang bisa karaoke sehingga ini menjadi daya tarik wisatawan,” ujarnya. Kelebihan objek wisata air di wilayah ini, karena perairan setempat nyaris tidak memiliki arus deras. Sehingga pondok-pondok terapung yang dibuat pun dapat digunakan dengan baik dan aman untuk dinaiki wisatawan.

“Selain itu, keadaan airnya berbeda, misalnya seperti di Sungai Kahayan sana  airnya putih dan keruh. Sedangkan disini, airnya merah,” tukasnya.

Diakuinya, kawasan Dermaga Kereng Bangkirai tersebut mulai mendapatkan perhatian dari pemerintah setempat sekitar tahun 2016. Bentuk dukungan pemerintah setempat sambungnya antara lain bangunan dan tambahan fasilitas. “Meskipun belum menyentuh seluruhnya kepada pelaku usaha yang ada di Dermaga Kereng Bangkirai. Keinginan para pelaku usaha ini kan di buat dermaga tambak atau dermaga khusus untuk kegiatan wisata, kemaren sudah diusulkan tetapi , dicoret karena pandemi ini” lanjutnya. Sejak Indonesia termasuk Palangka Raya dilanda pandemi Covid-19, Ketua Pokdarwis Kereng Bangkirai mengatakan, kunjungan wisatawan mengalami kenaikan dan penurunan yang bervariasi.

Namun demikian ia berharap usulan terkait dibuatkan Dermaga Tambak agar direalisasikan oleh pemerintah setempat. “Kami juga berharap pemerintah bisa membuat desain pondok terapung untuk kami, sehingga pondok terapung bentuknya sama, agar pengunjung tidak perlu memilih-milih lagi pondok terapung tersebut,” tutupnya. (nto)