Hari ini, Selasa (1/2) merupakan perayaan Imlek 2573. Sebagaimana pentingnya perayaan tahun baru bagi masyarakat Tionghoa ini, hidangan wajib Nian Gao atau yang biasa disebut kue keranjang atau kue Imlek juga tak luput disajikan. Kue ini wajib ada pada ritual ibadah untuk disajikan kepada leluhur.

 

ANISA B WAHDAH, Palangka Raya

 

BERBENTUK bak keranjang dan dinamai Nian Gao. Kue dengan dua macam ukuran itu tertata rapi di meja pintu masuk Rumah Makan (RM) Singkawang, Jalan Bangka, kompleks Pasar Besar Palangka Raya. Berwarna colekat. Teksturnya kenyal. Di atas jejeran kue itu tertera harga. Satu kilogram dijual Rp60 ribu dan Rp35 ribu untuk setengah kilogram.

Seorang pria datang mengambil pesanan. Dua buah kue keranjang dengan ukuran paling besar dibungkus rapi pada tas merah bertuliskan Gong Xi Fa Chai yang artinya selamat kemakmuran. Kalimat yang biasa digunakan sebagai panjatan doa saat perayaan Imlek tiba.

RM Singkawang ini akan ramai dikunjungi pelanggan sebulan menjelang perayaan Imlek. Para pelanggan kue keranjang ini harus menanti sampai datangnya Imlek untuk bisa menikmati kue berbahan ketan dan gula ini.

RM Singkawang masih menjadi satu-satunya tempat di Kota Palangka Raya yang memproduksi dan menjual kue khas perayaan Imlek, terhitung sejak 1984.

Ada makna tersendiri di balik hidangan yang rasanya manis ini. Ling Ling, pemilik turun temurun tiga generasi RM Singkawang menyebut, rasa manis pada kue ini bermakna melalui momentum Imlek, kehidupan yang akan dijalani berasa manis seperti rasa kue itu. Sementara ketan yang menghasilkan tekstur lengket sebagai simbol harapan akan rezeki yang terus lengket.

Sudah tiga generasi RM Singkawang memproduksi dan menjual kue keranjang. Dimulai dari kakek, ayah, dan saat ini diteruskan oleh anaknya. RM Singkawang hanya memproduksi kue keranjang setahun sekali, yakni saat momen perayaan Imlek. Meski secara umum kue ini banyak disajikan saat peringatan hari-hari keagamaan Buddha, tapi berbeda saat perayaan Imlek. Tidak hanya disajikan, tetapi juga dipersembahkan kepada leluhur.

“Biasanya saat ibadah kami sajikan kue ini di vihara, bagi penganut agama Budha kue keranjang menjadi kewajiban untuk dihidangkan,” kata Ling Ling saat dibincangi Kalteng Pos di RM Singkawang, Sabtu (29/1).

Produksi kue keranjang ini tak sebatas dinikmati masyarakat Tionghoa yang ada di Kota Palangka Raya, tapi juga dipesan dari daerah lain, seperti Kapuas, Buntok, Sampit, dan beberapa kabupaten lainnya. Bahkan konsumennya pun ada yang berasal dari Banjarmasin.

“Langganan sudah banyak, pesanan selalu membeludak saat menjelang perayaan Imlek, tidak hanya warga Tionghoa lho,” sebutnya.

Seiring meningkatnya peminat, produksi kue keranjang tiap tahun pun mengalami peningkatan. Untuk itu, sebulan sebelum Imlek pihaknya sudah mulai memproduksi dan membuat display kue keranjang.

“Tahun ini ada peningkatan 30 persen dari tahun sebelumnya, tahun ini kami sudah produksi satu ton, sedangkan tahun lalu hanya sekitar 500 hingga 600 kilogram saja,” ucapnya kepada Kalteng Pos.

Untuk pembuatan kue ini, perempuan kelahiran Singkawang itu mengatakan, bahanya dari ketan putih dan gula putih. Gula dicairkan dengan pandan dan ketan putih, lalu digiling menjadi tepung. Tidak ada campuran lain. Kemudian diadonin dan dituang ke dalam cetakan sesuai ukuran, lalu dikukus selama 12 jam.

“Saat pengkukusan, adonan tidak diaduk ya, berbeda dengan dodol,” tutur dia.

Cara pembuatannya pun masih sangat tradisional. Yakni memasak menggunakan dandang pada tungku kayu bakar. Meski saat ini di tempat lain sudah menggunakan kompor, tapi menurutnya ada perbedaan menggunakan kayu bakar dengan menggunakan kompor.

“Kalau menggunakan kayu bakar itu kue yang dihasilkan lebih harum, kalau pakai kompor tidak merata apinya,” sebutnya. Pembuatan kue ini memakan waktu sekitar 16 jam. Yang banyak membutuhkan waktu adalah proses pengukusan. Dalam satu dandang, cukup untuk memproduksi 100 kilogram kue.

“Kami produksi tidak setiap hari, karena waktunya cukup lama. Hampir tiga hari baru selesai untuk satu kloter pembuatan,” ujarnya.

Lebih lanjut ia mengatakan, bahan baku tersedia di Palangka Raya. Namun untuk plastik tempat kue dibeli dari Pontianak. Kue keranjang yang diproduksi Ling Ling masih original. Baik bahan bakunya, rasa, warna, hingga bentuk. Berbeda dengan kue keranjang di tempat lain yang kebanyakan sudah dimodifikasi.

“Ukurannya ada yang setengah kilogram dan satu kilogram, sebetulnya tidak ada ukuran yang dipatok untuk membuat kue ini,” katanya.

Ditambahkannya, ada pantangan dalam pembuatan kue ini. Salah satunya, perempuan yang sedang datang bulan tidak dibolehkan ikut memasak. Karena itulah jarang terlihat perempuan terlibat dalam proses pembuatan kue keranjang ini. (*/ce/ala)