PALANGKA RAYA-Mobilitas orang keluar masuk Kalteng sepertinya harus mulai dikurangi. Hal ini dimaksudkan untuk menekan penyebaran kasus Omicron yang diprediksi bakal melonjak akhir bulan ini. Antisipasi perlu dilakukan, mengingat tingginya mobilitas berdampak pada angka kasus terkonfirmasi positif Covid-19 yang terus melonjak.

Terus meningkatnya angka kasus persebaran Covid-19 di 14 kabupaten/kota di Kalteng bisa dilihat dari data Satgas Penanganan Covid-19 Provinsi Kalteng. Per Selasa (1/2) pukul 16.00 WIB, ada penambahan 26 kasus. Terdiri dari 17 kasus di Palangka Raya, 6 kasus di Kapuas, dan masing-masing 1 kasus di Seruyan, Sukamara, serta Gunung Mas (Gumas). Peningkatkan kasus ini tak lepas dari tingginya mobilitas orang keluar masuk Kalteng.

Ketua Harian Satgas Covid-19 Kalteng Falery Tuwan menyebut, tingginya perpindahan orang dari Jakarta ke beberapa daerah di Indonesia, juag berdampak pada peningkatan kasus di Kalteng. Selama tiga hari terakhir, grafik penambahan kasus terus naik.

“Terutama beberapa minggu terakhir di Januari ini ada peningkatan, biasanya tidak lebih dari empat kasus dalam sehari, tapi sekarang sudah lebih dari itu,” ucap Falery Tuwan kepada Kalteng Pos, (1/2).

Data tersebut, kata mantan Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) Kalteng ini, terekam di pusat, sehingga mengakibatkan level pemberlakukan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) pada beberapa kabupaten/kota di Kalteng ini mengalami kenaikan. Yang awalnya sudah bisa level 1, kemudian naik menjadi level 2.

Berdasarkan Instruksi Menteri Dalam Negeri (Inmendagri) Nomor 7 Tahun 2022 yang ditandatangani pada Senin (31/1), tercatat ada peningkatan level PPKM di Kalteng. Dalam Inmendagri tersebut, kabupaten/kota yang menerapkan PPKM level 1 mencakup Kabupaten Kotawaringin Barat, Barito Selatan, Barito Utara, Katingan, Sukamara, Pulang Pisau, dan Barito Timur. Sedangkan kabupaten yang menerapan PPKM level 2 yakni Kotawaringin Timur, Kapuas, Seruyan, Lamandau, Gunung Mas, Murung Raya, dan Kota Palangka Raya.

Sementara pada Inmendagri Nomor 4 Tahun 2022 yang ditandatangani pada 18 Januari lalu, kabupaten/kota yang menerapkan PPKM level 1 lebih banyak dibandingkan PPKM level 2. PPKM level 1 mencakup Kabupaten Kotawaringin Barat, Kotawaringin Timur, Barito Selatan, Barito Utara, Katingan, Gunung Mas, Pulang Pisau, Murung Raya, dan Barito Timur. Sedangkan yang menerapkan PPKM level 2 yakni Kabupaten Kapuas, Seruyan, Sukamara, Lamandau, dan Kota Palangka Raya.

Pada Inmendagri sebelumnya hanya ada lima kabupaten yang menerapkan PPKM level 2. Sementara pada Inmendagri terbaru terdapat tujuh kabupaten yang menerapkan PPKM level 2. Hingga saat ini belum tidak ada kabupaten/kota yang ditetapkan menerapkan PPKM level 3. “Memang hal ini sesuai perkiraan secara nasional, bahwa menjelang Februari ini ada peningkatan kasus, sejak beberapa minggu lalu sudah dimulai di Jakarta,” tutup Falery.

Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kalteng dr Suyuti Syamsul menyebut, diperkirakan pada Februari ini akan terjadi puncak kasus Covid-19 di Kalteng. Untuk mengukur laju kasus tidak melihat dari banyaknya jumlah kasus positif Covid-19, melainkan dari sisi positivity rate-nya.

“Artinya, apabila saya periksa 10 kemudian 2 yang dinyatakan positif, maka 20 persen positif rate-nya, kemudian apabila yang diperiksa 1.000 kemudian yang positif 10, maka artinya hanya satu persen saja,” ucapnya.

Ia menyebut bahwa sejauh ini angka positifity rate di Kalteng masih di bawah satu persen. “Jika menyebut naik dari segi epidemiologis itu belum, karena tidak hanya dilihat secara singkat ada kenaikan,” sebutnya.

Meski demikian, dari sisi indikator epidemiologis memang ada kenaikan kasus. Karena itu pihaknya meminta kepada dinas kesehatan kabupaten/kota untuk segera mengambil langkah antisipasi. “Dengan demikian sudah siap dari sekarang jika nantinya ada lonjakan atau peningkatan kasus,” pungkasnya. (abw/ce/ala)