Pembelajaran tatap muka (PTM) 100 persen sudah dilaksanakan sejak awal tahun ini, sekaligus memulai tahun ajaran baru semester ganjil. Meski PTM sudah bisa dilaksanakan 100 persen, tapi penerapan protokol kesehatan tak boleh diabaikan.

 

ANISA B WAHDAH, Palangka Raya

 

HIDUP kembali. Begitulah gambaran sekolah-sekolah di daerah yang menerapkan pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) level 1 dan 2. Hampir dua tahun semua sekolah di Kalteng pada semua jenjang pendidikan seakan mati suri. Kini aktivitas belajar mengajar di sekolah digelar kembali dengan menerapkan PTM terbatas 100 persen.

Salah satunya SMAN-1 Palangka Raya. Di sekolah ini, PTM 100 persen mulai dilaksanakan awal Januari lalu. Sudah berjalan kurang lebih tiga minggu. Kamis (20/1) aktivitas belajar mengajar di SMAN-1 Palangka Raya sudah hampir normal, dengan penerapan kebiasan-kebiasaan baru. Hampir tidak terlihat peserta didik yang tanpa mengenakan masker.

Suara lantang guru yang memberi penjelasan materi pelajaran dan tawa siswa bersama teman-teman mulai terdengar lagi. Sudah mulai dilaksanakan kegiatan olahraga. Dalam satu kelas telah diisi penuh peserta didik. Pelaksanaan kegiatan di lingkungan sekolah mengikuti pola kebiasaan baru, sebagaimana yang sudah diterapkan selama pelaksanaan PTM 50 persen maupun simulasi PTM 100 persen.

Dalam rangka menjamin kesehatan peserta didik, pendidik, maupun tenaga pendidikan, maka dilakukan langkah-langkah pencegahan penularan Covid-19 melalui pemeriksaan swab antigen secara acak dan berkala. Di SMAN-1 Palangka Raya sudah dilaksanakan tes antigen terhadap beberapa siswa dan tenaga pendidik, dengan hasil negatif.

“Beberapa SMA/SMK di Kota Palangka Raya dan kabupaten lain yang berada di bawah kewenangan Dinas Pendidikan (Disdik) Kalteng sudah melaksanakan pemeriksaan secara acak, hal itu menindaklanjuti surat imbauan dari dinas agar sekolah melaksanaan pemeriksaan swab secara acak,” kata Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Disdik Kalteng Achmad Syaifudi saat diwawancarai di sela-sela peninjauan ke SMAN-1 Palangka Raya, Kamis (20/1).

Dia menyebut, selama pelaksanaan PTM 100 persen harus tetap hati-hati dan waspada. Jangan sampai, dengan adanya PTM 100 persen ini justru muncul korban terpapar Covid-19. Untuk itu pelaksanaan PTM 100 persen harus dijalankan sesuai panduan yang sudah disiapkan.

“Satgas Covid-19 di sekolah yang sudah terbentuk harus terus mengontrol kondisi sekolah dan ketertiban peserta didik dalam menjalankan protokol kesehatan,” ucapnya.

Syaifudi menambahkan, saat ini di Pulau Jawa sudah terjadi transmisi lokal varian Omicron. Sudah ada beberapa sekolah di Pulau Jawa yang ditutup oleh satgas Covid-19. Seiring berjalannya waktu, lanjut dia, akan ada penyesuaian dengan penerapan PPKM di kabupaten/kota se-Kalteng.

“Nanti PTM 100 persen ini akan menyesuaikan status PPKM daerah masing-masing, karena beradasarkan aturan, PTM 100 persen bisa dilaksanakan di daerah yang melaksanakan PPKM level 1 dan 2, apabila nanti ada kabupaten/kota di Kalteng ini naik lagi ke PPKM level 3, maka otomatis tidak bisa dilaksanakan PTM 100 persen,” tegasnya.

Untuk itu, dalam rangka mendeteksi kemungkinan adanya penyebaran kasus Covid-19, maka dilaksanakan pemeriksaan swab antigen secara periodik, karena virus ini tidak terlihat dan kapan saja bisa menular. Sejak disampaikan imbauan terkait pemeriksaan antigen secara periodic bagi peserta didik, pendidik, maupun tenaga pendidikan, dari 401 lembaga pendidikan di bawah kewenangan Disdik Kalteng tidak ditemukan kasus terpapar Covid-19.

Sementara itu, Kepala Sekolah SMAN-1 Palangka Raya Arbusin mengatakan, pihaknya sudah melaksanaan pemeriksaan terhadap sejumlah siswa dan tenaga pendidik. “Ada enam warga sekolah ikut pemeriksaan, hasilnya semua negatif, ke depannya kami akan terus melaksanakan pemeriksaan swab antigen berkala sebulan sekali,” tuturnya. (*/ce/ala)