Teori diberikan dosen kepada mahasiswa tidaklah sempurna. Melengkapinya, praktik melalui KKN menjadi jalan utama. Lantas, apa saja yang dilakukan untuk menerapkan teori dan praktik? Berikut ulasannya.

 

ALBERT M SHOLEH, Palangka Raya

 

MENDENGAR istilah Kuliah Kerja Nyata (KKN), kerap diidentifikasi dengan adanya gapura dan plang nama di sejumlah pelosok. Apakah kegiatan KKN mahasiswa bersama dosen pendamping lapangan hanya bisa membuat gapura dan plang nama? Tentu tidak. Buktinya, banyak karya patut dijadikan pembelajaran bersama insan cendekia dan masyarakat pada umumnya.

Ikut perjalanan Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) Universitas Palangka Raya (UPR), membuka mata dan telinga melalui banyaknya kegiatan pengabdian. Ya, pencanangan UPR Membangun Desa Berkarya untuk Indonesia, menjadi satu bukti nyata.

Di Kelurahan Tumbang Talaken, Kecamatan Manuhing, Kabupaten Gunung Mas mahasiswa dan dosen pendamping lapangan menciptakan banyak karya. Terjun langsung membantu warga. Mulai dari turut membuat kerajinan, kudapan (kuliner) khas, hingga mengajar dan membantu menyukseskan program pemerintah daerah menurunkan stunting (gagal tumbuh/kurang gizi).

Sekitar 142 kilometer dari kampus UPR Kota Palangka Raya, Kelurahan Tumbang Talaken menjadi saksi penerapan Tridharma kampus meliputi inovasi pendidikan dan pembelajaran, penelitian dan pengembangan, serta pengabdian kepada masyarakat.

“Merdeka Belajar dan Kampus Merdeka merupakan kebijakan Mendikbud Ristek RI yang menitikberatkan pada kreativitas dan inovasi agar pembangunan Indonesia berkelanjutan. Untuk itu, mahasiswa harus disiapkan menjadi pembelajar sejati, terampil, lentur, dan ulet (agile learner),” ucap Rektor UPR Andrie Elia, Senin pagi (29/11).

Andrie meyakini, konsep Merdeka Belajar dan Kampus Merdeka (MBKM) kaitannya sebagai jalan utama menyiapkan mahasiswa menjadi sarjana yang tangguh, sesuai kebutuhan zaman, dan siap menjadi pemimpin di berbagai bidang.

“Yang terpenting saat ini adalah kita berbicara karya. Mahasiswa mau demo atau turun jalan, silakan. Tapi, jika tidak ada hasilnya, lebih baik kita berkarya,” teriak sang rektor sambil memekikkan “hidup mahasiswa” sebanyak tiga kali sembari mengangkat kepalan tangan kiri.

Daerahnya menjadi salah satu percontohan UPR Membangun Desa, Bupati Gunung Mas Jaya S Monong menanggapinya dengan senyum bahagia.

Jaya lantas mengungkapkan program kabupaten yang dijuluki Habangkalan Penyang Karuhei Tatau itu. Pengembangan smart agro hingga smart tourism di Gunung Mas akan terlaksana dengan adanya peran khusus generasi milenial, mahasiswa, dan para sarjana muda.

“Kami mengembangkan smart agro dengan menanam jagung hibrida, pisang, ikan, dan lainnya. Tenaga ahli tentu saja pihak UPR bersama kelompok tani. Karya bersama. Begitu juga smart tourism dikembangkan dengan melibatkan generasi muda yang kreatif dan inovatif,” kata Jaya.

Tak hanya itu, program kesehatan dalam menangani stunting atau masalah kekurangan gizi, sangat membutuhkan peran kaum muda sebagai pembelajar, untuk memberikan pemahaman dan edukasi bersama tentang pentingnya ketahanan pangan, khususnya kebutuhan gizi. Secara teknis, Ketua LPPM UPR Aswin Usup menjabarkan delapan program dilakukan pihaknya.

Pertama, membangun desa dalam bentuk Kuliah Kerja Nyata Tematik (KKNT). Kedua, pertukaran pelajar. Ketiga, magang belajar. Keempat, asistensi mengajar. Kelima, penelitian atau riset. Keenam, proyek kemanusiaan. Ketujuh, kegiatan kewirausahaan. Dan kedelapan, studi atau proyek independen.

“Sebagai contoh, mahasiswa diminta menanam minimal lima batang pohon pisang. Membantu mengajar hingga menyelipkan pentingnya asupan gizi dalam kaitan mengurangi potensi stunting. Ada juga bersama masyarakat terkait kewirausahaan, mengemas dan memasarkan produk lokal lebih luas lagi,” beber Aswin.

Usai pencanangan UPR Membangun Desa Berkarya untuk Indonesia, Ketua Panitia Yorgen K Nahan menuturkan, dilanjutkan penandatanganan kerja sama antara Ketua LPPM UPR dengan lima kepala desa (kades) terkait pemberdayaan masyarakat desa, ketahanan pangan, pengembangan desa percontohan, kewirausahaan desa, kesehatan dan stanting.

Di antaranya Kades Bungai Jaya, Basarang, Kapuas, Kades Garong, Jabiren Raya, Pulang Pisau, Kades Tewai Baru, Sepang, Gumas, Kades Mabuan, Dusel, Barsel, dan Kades Tumbang Jutuh, Rungan, Gumas.

Rektor, bupati, Camat Manuhing, Lurah Tumbang Talaken, dan perwakilah Kalimantan Hamparan Sawit (KHS) turut membubuhkan tanda tangan di papan komitmen bersama membangun desa.

“Kami siap memfasilitasi kegiatan desa dan perguruan tinggi, termasuk menerima magang dan lulusan UPR,” singkat Senior Manager PT KHS Tua Gerson Zendrato. (ce/ala)