PALANGKA RAYA-Bencana banjir yang terjadi pada beberapa kabupaten/kota di Kalimantan Tengah (Kalteng) berdampak pada sektor pertanian. Pasalnya, ada beberapa komoditas pertanian yang mengalami puso atau gagal panen. Di Kota Palangka Raya, ratusan hektare lahan produktif terdampak.

Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DPKP) Kota Palangka Raya Renson mengatakan, banjir yang terjadi beberapa waktu lalu berdampak pada sektor pertanian di tiga kelurahan dan tiga kecamatan. Kecamatan pertama yang terdampak banjir adalah Kecamatan Sebangau. 100 hektare (ha) lahan produktif pertanian terdampak. Terdiri dari 60 ha lahan jagung, 25 ha lahan sayuran, dan 15 ha lahan buah-buahan.

Sedangkan untuk lahan kosong sekitar 30 ha yang terdampak. Sebanyak 33 kelompok tani dan 900 petani mengalami kerugian akibat bencana ini.

Di Kelurahan Tanjung Pinang, Kecamatan Pahandut, seluas 150 ha lahan terdampak banjir. Mencakup 50 ha lahan produktif dan 100 ha lahan kosong, dengan 5 kelompok tani dan 100 petani yang merugi.

Lokasi ketiga di Kelurahan Tumbang Tahai, Kecamatan Bukit Batu. Seluas 3 ha lahan produktif yang terdampak banjir. Kerugian dialami 2 kelompok tani dan 23 petani.

“Untuk di Tumbang Tahai dan Tanjung Pinang, rata-rata yang terdampak adalah lahan sayur, tapi tidak sampai gagal panen,” ungkapnya, Banjir yang terjadi di Kelurahan Kalampangan menyebabkan beberapa hektare lahan jagung gagal panen.

“Menyangkut total kerugian, kami masih mengumpulkan data dari tiap kelurahan, kami harap ada bantuan dari pemerintah provinsi bagi masyarakat atau petani yang terdampak banjir,” pungkasnya.

Sementara itu, Lurah Kalampangan Yunita Martina mengaku petani di Kalampangan sudah tiga kali gagal panen karena banjir. Luasan lahan pertanian yang gagal panen ini pun mencapai ribuan hekatere.

“Iya gagal panen untuk ketiga kalinya. Seribu tiga ratus haktare yang terdampak,”ujarnya kepada Kalteng Pos, Selasa (30/11).

Dia menjelaskan, lahan tersebut baru bisa ditanami lagi stelahsatu bulan. Para petani sendiri perlu bantuan dari pemerintah agar bisa kembali semangat bercocok tanam. “Harapan warga ada bantuan bibit pupuk dan kapur. Harapan ini sudah dimasukan ke dalam data pascabanjir ke pusat melalui BPBD ketika ada Menteri Sosial ke Palangka Raya,” jelasnya.

 

Terpisah, Plt Kepala Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura dan Peternakan (TPHP) Kalteng Sunarti mengatakan, bencana banjir telah merusak sebagian besar lahan pertanian di Kalteng, baik di lokasi pengembangan food estate maupun di luarnya. Ia menyebut, wilayah pertanian yang paling banyak terdampak dan mengalami gagal panen yakni di Kabupaten Barito Selatan (Barsel).

 

“Paling banyak lahan yang terdampak banjir ini di Barito Selatan, dengan luas sekitar 300 hektare per 23 November lalu,” katanya saat diwawancarai Kalteng Pos di kantor Dinas TPHP Kalteng, kemarin.

 

Ia menyebut, 300 hektare lahan yang terdampak banjir dan dipastikan gagal panen ini ditanami padi. Wilayah itu memang tidak masuk dalam lahan food estate.

“Untuk di Kabupaten Pulang Pisau (Pulpis), tepatnya di Kecamatan Jabiren juga dipastikan gagal panen karena banjir terjadi saat mendekati masa panen,” ucapnya.

Yang terdampak yakni 144 hektare lahan padi, 26 hektare lahan jagung, 25 hektare lahan ubi kayu, dan 5 hektare lahan ubi jalar.

Sedangkan di wilayah Kabupaten Kapuas, terjadi gagal panen pada lahan seluas 1,5 hektare yang ditanami bawang merah.

Sunarti menyebut, petani yang terdampak banjir dan mengalami gagal panen tapi memiliki asuransi, maka dipastikan mendapat jaminan perlindungan. “Sepanjang mereka masuk di asuransi, pasti ter-cover semua,” tegasnya.

Lantas bagaimana dengan nasib para petani yang belum mengurus asuransi. Untuk hal ini, pihaknya berharap kepada para petani agar segera ikut program asuransi.

“Asuransi untuk tanaman padi sendiri sudah diperhatikan dan mendapat gratis dari pemerintah pusat maupun dari pemerintah daerah dalam hal ini gubernur, tapi kok masih banyak yang tidak mau ikut. Saat terjadi bencana seperti ini, tentu yang akan merugi adalah petani yang tidak ikut program asuransi,” pungkasnya. (abw/ahm/uni/ce/ala)