Sekretaris Komisi B DPRD Kota Norhaini meminta agar Pemerintah Kota (Pemko) Palangka Raya tidak lengah menangani penyebaran virus ASF. Meminta pemko untuk bergerak cepat. “Saya selaku legislator yang membidangi pembangunan dan perekonomian turut prihatin dengan adanya wabah ini, selain peternak babi bangkrut, tentunya virus ini akan berdampak pada penjualan daging babi,” ujarnya.

Dengan banyaknya babi yang mati dan menurunnya minat konsumen, tentunya cukup berdampak pada perekonomian, khususnya di sektor penjualan makanan menu babi. “Intinya jangan lengah dalam menangani wabah ini, pemerintah harus bergerak cepat,” tegasnya.

Diberitakan sebelumnya, Ketua Asosiasi Peternak Babi Palangka Raya, Marthen Rungsa menyebut, akibat wabah demam babi Afrika yang muncul sejak tiga bulan lalu, lebih dari 3.000 ekor babi milik peternak mati. Jumlah itu tercatat dari laporan 1.000 peternak babi di Palangka Raya.

Dikatakannya, harga babi yang dibeli di kandang mencapai Rp35 ribu/kilogram. Rata-rata berat satu ekor babi yang siap jual adalah 80-100 kilogram. Jika dihitung, 35.000 x 80 kilogram x 3.000 ekor, sama dengan Rp8,4 miliar. Artinya, kerugian yang dialami peternak akibat kematian babi yang terserang wabah ini mencapai miliaran rupiah. (kaltengpos)