PALANGKA RAYA-Bangunan kayu yang berjejer memanjang itu tak terawat lagi. Tanaman liar tumbuh subur. Menjalar tak beraturan di sekitar kontruksi yang difungsikan sebagai kandang babi itu. Si empunya kandang, Murayati, sudah lebih sebulan tak menengok. Begitu juga lima anggota keluarga lain yang memelihara babi di lokasi itu.

Babi yang diternak mereka, semuanya mati. Jumlahnya puluhan. Mulai dari babi berbobot 10 kilogram sampai 1 kwintal. Sebulan lalu, perempuan baya itu kehilangan tujuh ekor babi. Ia tak begitu tahu jika kematian itu akibat virus demam babi Afrika atau African Swine Fever (ASF) yang telah menular ke wilayah Kalteng sejak September 2021.

“Saat itu, saya beri makan sore harinya. Loh, pada pagi hari, masih ada pakannya. Babi saya tak bisa berdiri lagi. Lalu dikasih obat, tapi tidak tertolong, beberapa jam kemudian mati,” ujar Murayati yang sudah beternak babi 10 tahun terakhir.

Kondisi yang sama terjadi pada babi peternak di lokasi sekitar. Jumlah kematian babi berbeda-beda. Belasan sampai puluhan. Beberapa peternak yang merugi sampai ratusan juta memilih diam. Enggan menceritakan kisah pilunya. Mereka baru tahu soal virus ini setelah ternak mereka mati. Mereka menyayangkan, tidak ada imbauan atau sosialisasi sebelumnya dari pemerintah. “Enggak ada sosialisasi,” ucap Rudi.

“Saya harap pemerintah bisa memberi solusi bagi peternak babi rumahan seperti kami. Sudah pasti kami tidak bisa beternak lagi. Entah kapan virus ini hilang,” keluh Wati yang mengaku kehilangan 15 ekor babi sepekan lalu.

Peternak babi yang lain, Yunike, sedikit beruntung. Dari jumlah 63 ekor babi yang dipeliharanya, hanya 2 ekor yang mati. Sementara babi-babi milik peternak lain di kompleks tinggalnya Jalan Tingang XXIV, tak ada yang selamat. Saat ini ia menerapkan biosekuriti atau tindakan pencegahan untuk mengurangi risiko penularan penyakit menular. Semua babi miliknya sudah disuntik serum konvalesen oleh dokter hewan.

“Satu kompleks peternak babi di sini, semua babi pada habis (mati, red) dari bulan lalu. Ini kandang punya saya baru sepekan terakhir diketahui ada virus ASF masuk. Dua ekor sudah mati, empat ekor diketahui sakit,” ujarnya kepada Kalteng Pos, beberapa hari lalu.

Sementara itu, Ketua Asosiasi Peternak Babi Palangka Raya Marthen Rungsa menyebut, akibat wabah demam babi Afrika sejak tiga bulan lalu, lebih dari 3.000 ekor babi milik peternak mati. Jumlah itu terangkum dari laporan 1.000 peternak babi di Palangka Raya.

Sudah pasti kerugian yang dialami peternak tidak sedikit, jika dihitung berdasarkan harga babi dibeli di kandang mencapai Rp35 ribu/kilogram. Berat satu ekor babi yang siap jual berkisar 80-100 kilogram. “Bisa dihitung, 35.000 x 80 kilogram x 3.000 ekor, sama dengan Rp8,4 miliar. Nilai kerugian sangat besar sekali bagi para peternak babi,” ucapnya dengan lirih.

Pria yang lebih 10 tahun beternak babi ini merasa prihatin. Bayangkan, jumlah peternak babi di Palangka Raya mencapai kurang lebih 1.000 orang atau 1.000 kepala keluarga. Hampir semua menggantungkan hidupnya pada usaha ternak babi.

Marthen menyebut, puncak kematian babi di Palangka Raya akibat wabah ASF terjadi pada September-Oktober lalu. Saat ini sudah mulai mereda, bukan lantaran virusnya sudah hilang, melainkan jumlah populasi sudah berkurang. “Yang paling parah sekitar satu bulan yang lalu, kalau bulan ini sudah agak mereda, tapi bukan karena penyakitnya yang mereda, melainkan babinya memang sudah habis,” ucapnya sedih.

Wabah virus ASF ini memberi efek domino terhadap harga jual daging babi. Bukannya tambah mahal, malah harga jual di pasaran makin murah. “Sekarang orang pada takut beli daging babi,”sebut pria yang memiliki 100 ekor babi ini.

Marthen berharap pemerintah bisa secepatnya turun tangan membantu para peternak mengatasi wabah demam babi Afrika ini. Bahkan dalam waktu dekat ini, perwakilan pengurus berencana untuk beraudiensi dengan wali kota dan wakil rakyat yang duduk di DPRD Kota Palangka Raya.

Dalam pertemuan nanti, pihak asosiasi meminta pemerintah membantu para peternak babi dalam mengatasi wabah ASF ini. Selain itu, pihak asosiasi juga berharap pemerintah bisa memperhatikan para peternak babi yang mengalami kerugian akibat wabah ini.

“Dalam pertemuan nanti kami akan memohon kepada wali kota dan anggota dewan untuk bisa bantu mencarikan jalan keluar untuk 1.000 kepala keluarga peternak babi yang kehilangan mata pencaharian. Bisa saja nanti pemerintah memberikan bantuan bibit babi. Satu orang peternak diberi satu pasang tidak masalah, yang penting mereka bisa memulai lagi,” bebernya.

Merebaknya demam babi Afrika juga memberi efek domino terhadap pedagang daging babi. Kalteng Pos mendatangi langsung lokasi jual beli daging babi di pasar. Tidak banyak aktivitas terlihat di sana.

Salah satu penjual daging babi, Mega Sukmawatie, mengaku aktivitas jual beli saat ini jauh dari biasanya. Para pelanggan jarang datang. “Banyak konsumen mengurungkan niat untuk membeli daging babi,” ujarnya.

Dalam kondisi seperti sekarang ini, ia hanya membawa satu ekor babi untuk dijual. Padahal sebelum virus ada, bisa sampai 5 ekor yang dibeli dari peternak lokal untuk dijualnya. Soal harga jual, tidak ada perubahan. Ia menjual Rp65 ribu/kilogram. Sesekali ia memberi diskon ke pelanggan, agar dagangannya lekas habis terjual.

Ia berharap pemerintah bisa memperhatikan kondisi ini, agar daya beli masyarakat naik lagi. Menurut Mega, sosialisasi terkait virus ini perlu dimasifkan. Banyak orang yang percaya isu bahwa daging babi yang terpapar virus ASF bisa menular ke manusia. Padahal, sangat jelas bahwa penularannya hanya dari babi ke babi. "Sekarang banyak pembeli malah cari daging babi hutan, mereka takut mengonsumsi daging babi ternakan,” ungkapnya. (sja/ena/ahm/ahm/ce/ram)