PALANGKA RAYA-Berdasarkan prediksi Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Tjilik Riwut Palangka Raya, terhitung sejak 26 November hingga 2 Desember, seluruh wilayah Kalimantan Tengah (Kalteng) berpotensi turun hujan intensitas sedang hingga deras yang disertai petir dan angin kencang.

Saat dikonfirmasi, prakirawan BMKG Tjilik Riwut Palangka Raya Alfandi ari, per Sabtu (27/11) seluruh kabupaten/kota berpotensi terjadi hujan intensitas sedang hingga deras disertai petir dan angin kencang. Namun pada (28/11), tidak seluruh daerah terjadi hujan. Hanya delapan kabupaten/kota yang berpotensi turun hujan sedang hingga deras yang disertai petir dan angin kencang.

Delapan daerah tersebut mencakup Kabupaten Kotawaringin Barat (Kobar), Kotawaringin Timur (Kotim), Lamandau, Sukamara, Kapuas, Pulang Pisau (Pulpis), Barito Selatan (Barsel), dan Barito Timur (Bartim). Pihaknya menyebut, kondisi tersebut merupakan perkiraan harian dari 26 hingga 28 November.

“Namun secara umum dalam satu minggu ke depan, mulai dari 26 November hingga 2 Desember nanti, seluruh wilayah di Kalteng berpotensi turun hujan disertai petir dan angin,” katanya saat dikonfirmasi melalui sambungan telepon.

Kemungkinan, lanjut Alfian, dalam jangka waktu satu minggu ke depan, beberapa hari akan turun hujan berintensitas deras pada beberapa wilayah. “Namun secara umum seluruh wilayah di Kalteng berpotensi hujan berintensitas sedang hingga deras disertai petir,” tegasnya.

Sementara itu, saat dikonfirmasi melalui sambungan telepon, Kepala Pelaksana (Kalaksa) Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Katingan Roby mengatakan, banjir di wilayah Katingan saat ini masih menggenangi tiga kecamatan, yakni Kecamatan Tasik Payawan, Kamipang, dan Mendawai. Dari tiga kecamatan itu, ada 18 desa yang terdampak.

“Namun menurut laporan yang kami terima, selama dua hari terakhir ini sudah turun debit air, rata-rata turun 10 sentimeter,” katanya.

Meski banjir merendam perumahan, tapi tidak ada warga yang mengungsi. Justru warga membuat panggung di dalam rumah untuk bertahan. Padahal BPBD Kabupaten Katingan sudah menyediakan lokasi pengungsian.

“Masih ada genangan dengan ketinggian 10 hingga 20 sentiemter, tidak sama di setiap desa dan kecamatan, kemarin terpantau tidak turun hujan di wilayah Katingan,” bebernya.

Lebih lanjut dikatakannya, pada beberapa titik lokasi masih cukup tinggi kedalaman airnya. Mulai dari 80 hingga dan 120 sentimeter. Seperti di Desa Tumbang Bulan yang kedalaman air mencapai 120 sentimeter dari permukaan tanah.

Terpisah, Kalaksa BPBD Kabupaten Kapuas Panahatan Sinaga mengatakan, banjir yang melanda wilayah Kabupaten Kapuas rata-rata sudah surut. Tak ada lagi air yang menggenangi rumah warga. Hanya terlihat genangan di beberapa titik jalan. “Asal di wilayah hulu curah hujan tidak tinggi, maka di hilir aman,” tegasnya.

Namun, lanjutnya, ada daerah yang masih terdapat genangan, yakni di Kecamatan Mantangai, meliputi Desa Mangkutup, Bukit Batu, Tumbang Muroi, dan Desa Tabore. Sementara di perbatasan Timpah dan Mentangai, tepatnya di Tumbang Randang, terjadi genangan karena merupakan batas air.

“Kalau di hulu air mengalir, maka di hilir terjadi pasang, karena batasnya di Desa Latupan dan Tumbang Randang, makanya air menumpuk, sehingga penurunan air jadi lambat” pungkasnya.

Sementara itu, Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Palangka Raya Emi Abriyani mengatakan, kondisi Kota Palangka Raya saat ini berangsur normal, meski di beberapa kelurahan seperti Kelurahan Petuk Katimpun, Marang, Danau Tundai, Bereng Bengkel, dan Bukit Tunggal, masih ada rumah warga yang terendam.

“Ketinggian air di Kelurahan Kalampangan setinggi 37 sentimeter dan Bereng Bengkel sekitar 52 sentimeter, sedangkan ketinggian air pada sejumlah wilayah di daerah aliran Sungai Sebangau, Kahayan, dan Rungan sudah turun,” kata Emi, kemarin.

Pengungsi yang masih bertahan di lokasi pengungsian Gor KONI Palangka Raya berjumlah 99 orang. Terdiri dari 63 orang dewasa, 26 anak-anak, 8 bayi, dan 4 lansia.

“Dari sekian banyak posko yang disiapkan sebelumnya, hanya posko pengungsian Gor KONI yang saat ini masih ada pengungsinya, sedangkan di posko-posko lain, warga yang mengungsi sudah kembali ke rumah masing-masing,” pungkasnya. (abw/ahm/ce/ala)