Sepekan sudah banjir melanda Kota Palangka Raya. Perhatian pemerintah kepada warga tak perlu diragukan. Eitss, jangan lupakan keberadaan para relawan, yang 24 jam selalu siap, jika ada yang meminta bantuan.

 

PATHUR RAHMAN, Palangka Raya

 

HUJAN rintik mengiringi waktu menjelang bergantinya hari. Malam itu, ada warga yang meminta bantuan. Kebetulan yang meminta bantuan sudah lanjut usia. Orang itu meminta untuk dievakuasi, lantaran rumahnya sudah penuh digenangi air.

Para relawan langsung bergegas mengambil peralatan rescue. Secepat mungkin mendatangi lokasi. Sampai akhirnya nenek itu dibawa ke tempat yang aman. Begitulah secuil cerita ketika tim relawan merespons adanya permintaan bantuan dari masyarakat.

Saya (penulis) mendapat kesempatan berbincang dengan relawan Emergency Response Palangka Raya (ERP). Nama ini sudah cukup familiar bagi masyarakat Kota Cantik. Sepak terjang dalam misi kemanusiaan tak diragukan lagi.

Saat ini, ERP stand by di posko pengungsian banjir di Jalan Arut. Siap siaga 24 jam.

“Kami di sini stand by 24 jam, ERP ini dikomandoi oleh ketua Jean Steve, kami dibagi dalam dua kelompok, yakni kelompok siang dan kelompok malam untuk stand by di posko induk penanganan banjir,” ungkap Yogi, salah satu anggota ERP, kemarin (18/11).

Yogi menyebut, selama bertugas di posko banjir, relawan ERP membantu mengevakuasi warga yang meminta bantuan evakuasi.

Tak jarang pihaknya juga dimintai bantuan oleh warga untuk mengevakuasi hewan peliharaan.

Selain itu, membagikan makanan kepada pengungsi. Setiap tiga jam sekali melakukan patroli penyusuran daerah Jalan Anoi hingga Jalan Mendawai untuk memantau situasi dan kondisi banjir serta mengecek debit air.

“Setiap pagi ada warga yang minta diantar menuju rumahnya untuk mengecek kondisi, dan itu merupakan aktivitas rutin kami saat ini, antar jemput masyarakat menuju rumah lalu kembali ke posko,” terangnya.

 

Selama melakukan upaya evakuasi, tak lepas dari kejadian unik. Tercebur saat mendorong perahu, terperosok, dan lainnya sudah sering dialami.

“Debit air kan tinggi, saya sering terjerumus atau terperosok karena salah injak, saya pikir jalannya mulus-mulus saja, eh ternyata ada lubang, yang awalnya tinggi air sepinggang, setelah kecebur tingginya timbul sedada,” tuturnya sambil tertawa.

Selain terperosok ke jalan yang berlubang, Yogi juga pernah tercebur saat evakuasi warga pada malam hari. Kondisi gelap tentunya membuat jarak pandang jadi terbatas.

Meski ada pengalaman-pengalaman tak mengenakkan, tapi Yogi merasa senang bisa membantu masyarakat yang terdampak banjir. Dirinya selaku anggota ERP punya tanggung jawab kemanusiaan untuk membantu sesama. Siap mengorbankan waktu dan pikiran untuk masyarakat. Basah kuyup, meriang, bahkan sampai tak ingat makan sudah pernah dirasakan.

“Kalau bukan kita, siapa lagi, itulah moto kami, menolong sesama merupakan rasa yang menyenangkan bagi kami,” bebernya.

Terpisah, salah satu relawan Muhammadiyah Disaster Manajemen Center (MDMC) Kota Palangka Raya, Aprie Husin Rahu begitu bersyukur karena saat ini diberi kesehatan untuk bisa membantu sesama yang mengalami bencana, terutama di posko pengungsian Jalan Pelatuk.

“Alhamdulillah kami dari MDMC di sini bisa membantu menyediakan posko pengungsian dan menyiapkan makanan untuk warga yang terdampak bencana,” ungkap Aprie kepada Kalteng Pos.

Lebih lanjut dikatakannya, kegiatan kemanusiaan melalui posko bencana ini bukanlah yang pertama. Sebelumnya pihaknya pernah membuka posko pengungsian di Kota Kasongan, Kabupaten Katingan saat banjir hebat melanda beberapa waktu lalu.

Soal pengalaman unik, tuturnya, tentu ada. Pernah saat evakuasi dan pendistribusian makanan, ia dan rekan-rekannya basah kuyup. Kadang, saking sibuknya di dapur umum, pakaian yang basah sampai-sampai kering sendirinya.

“Sebagai relawan aksi kemanusiaan, terutama dalam hal penanganan bencana, kami selaku anggota MDMC Kota Palangka Raya akan terus berupaya membantu masyarakat, dan kita tentu berharap bencana banjir ini segera berakhir,” pungkasnya. (ce/ram)