Permukiman penduduk di bantaran Sungai Kahayan tergenang banjir. Kian hari debit air makin tinggi hingga mencapai 1,5 meter. Banjir yang terjadi di Kota Palangka Raya kali ini disebut-sebut yang terparah dalam dua dekade terakhir.

 

PATHUR RAHMAN, Palangka Raya

 

ARMADA Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Palangka Raya lalu lalang pergi dan kembali ke pos komando (posko) banjir. Tidak sedikit warga yang terjebak di tengah kepungan banjir. Salah satunya di seputaran kawasan Jalan Mendawai, Kelurahan Palangka, Kecamatan Jekan Raya. Warga yang terjebak, dievakuasi oleh petugas gabungan menggunakan perahu karet. 

Petugas membawa warga menuju posko pengungsian di Jalan Arut. Ketika Kalteng Pos mengunjungi posko kemarin siang, sudah ada sekitar 18 orang warga. Terdiri dari 2 balita, 9 anak, 1 lansia, dan 6 orang dewasa. Zaida, seorang lansia yang baru saja dievakuasi petugas, mengaku kesulitan dan bingung beribadah di rumahnya, karena genangan air sudah setinggi pinggang orang dewasa. Sehingga dirinya meminta bantuan kepada keponakannya untuk menghubungi petugas posko Jalan Arut untuk proses evakuasi, karena dirinya sendiri bingung mau menggunakan apa berangkat menuju posko.

“Banjir ini adalah yang paling parah dalam dua dekade terakhir, mendawai memang langganan banjir, tapi kali ini yang paling parah dan paling besar,” ucap Zaidah. Zaidah mengatakan, dirinya mau dievakuasi lantaran untuk mendapatkan tempat beribadah yang aman dan nyaman. “Saya ingin berdoa kepada Allah Swt supaya air cepat surut dan kami bisa cepat kembali ke rumah,” ucapnya sambil sesekali mengelap kakinya dengan handuk.

 Di tempat yang sama, seorang warga Jalan Mendawai, Upik mengungkapkan bahwa dirinya bersama istri dan anak sudah tiga hari terjebak di rumah akibat banjir. Berharap banjir segera surut, justru yang terjadi malah terus meninggi. “Kami tiga hari terjebak banjir di rumah, untuk makan pun seadanya saja apa yang ada di rumah, melihat air di jalan depan rumah sudah setinggi dada orang dewasa dan terus meninggi, akhirnya kami putuskan mengungsi,” tuturnya sambil menggendong putri kecilnya. 

Upik mengatakan, banjir yang terjadi kali ini sangat dahsyat. Kurang lebih dalam kurun waktu tujuh hari, menenggelamkan perumahan di kompleks Mendawai. Bahkan area pasar yang jarang kebanjiran, kali ini pun tak luput. Pihaknya meminta pemerintah daerah agar ke depannya bisa memperhatikan kawasan-kawasan perumahan yang menjadi langganan banjir. Mesti ada solusi mengatasi bencana alam ini.

 “Kami tak berharap banyak, hanya berharap air bisa cepat surut, agar kami bisa kembali bekerja dan keluarga pun bisa tinggal lagi di rumah dengan nyaman, kalau soal barang-barang berharga yang tak bisa diselamatkan, ya kami pasrah saja,” tuturnya sembari tertunduk lesu.

 Sebelumnya Upik dan keluarga diungsikan ke posko banjir yang didirikan di area Pasar Kahayan. Namun karena banyaknya pengungsi, kemudian diarahkan menuju posko induk di Jalan Arut yang masih tersedia tempat. Walau rumahnya sering dilanda banjir, tapi Upik masih tetap bersyukur karena memiliki rumah pribadi di Mendawai. Bukan rumah kredit ataupun kontrak.

 “Gimana ya, pengin sih punya rumah di tempat bebas banjir, tapi apa daya uang yang ada hanya cukup untuk mendirikan rumah di Mendawai,” ungkapnya. Pria berusia 28 tahun ini mengaku, sebagai pekerja buruh, berat baginya jika harus mengambil kredit perumahan komersil. Sebab, penghasilan yang didapatkannya tidak menentu, tergantung ada tidaknya proyek. Apalah daya dirinya hanya seorang buruh bangunan yang kerjanya ikut orang, bukan pemborong yang menangani proyek.

“Ada rezeki untuk makan dan bisa beli susu anak saja sudah syukur. Punya rumah sendiri meski jadi langganan banjir, saya tetap bersyukur,” serunya.

Sementara itu, Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Palangka Raya Emi Abriyani menyampaikan, genangan air pada sejumlah titik lokasi di Kota Palangka Raya sampai saat ini mengalami kenaikan.

Bahkan untuk di Kelurahan Palangka, termasuk Jalan Anoi dan kompleks Mendawai, ketinggian air saat ini rata-rata 1,5 meter. Sebagian besar warga di Jalan Anoi, Mendawai, dan Pelatuk terpaksa harus mengungsi. Posko di Jalan Arut menampung 18 warga yang mengungsi, sedangkan di posko Jalan Pelatuk terdapat 60 warga yang mengungsi. Posko di SDN 1 Langkai menampung 145 orang, sementara posko di wilayah Bandara Tjilik Riwut lama ditempati 8 warga yang mengungsi.

Di posko Bangaris ada 18 orang, posko Pelabuhan Rambang 35 orang, dan posko Gereja Sion menampung 14 orang. Data yang dihimpun dari delapan posko, ada 298 warga yang mengungsi.

Apabila genangan air terus meninggi, ada kemungkinan warga yang mengungsi bertambah. “Kepada warga yang saat ini bertahan di rumah, kami harap segara mengungsi, karena kami tidak ingin terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, apabila perlu evakuasi, laporkan agar kami segera menindaklanjuti,” tutup Emi. (*/ce/ala)