PALANGKA RAYA-Potensi hujan dengan intensitas sedang hingga deras diperkirakan masih akan terus mengguyuri sebagian besar wilayah Kalteng. Bahkan diperkirakan puncaknya pada Maret tahun depan. Karena itu, masyarakat diminta selalu waspada terhadap ancaman bencana banjir, tanah longsor, maupun pohon tumbang yang sewaktu-waktu bisa terjadi.

Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memperkirakan pada November ini Kalteng sudah memasuki musim hujan. Lian Adriani selaku prakirawan cuaca Stasiun Meteorologi Tjilik Riwut Palangka Raya mengungkapkan, selama satu minggu ke depan diprediksi ada potensi hujan dengan intensitas sedang hingga deras di sebagian besar wilayah Kalteng.

Meski saat ini curah hujan cukup tinggi, lanjut Lian, puncak musim hujan di wilayah Kalteng diprediksi terjadi pada Desember 2021 hingga Maret 2022. “Puncak musim hujan tahun ini berbeda-beda untuk wilayah di Kalteng, ada yang mulai Desember sampai dengan Maret (tahun 2022) nanti," kata Lian kepada Kalteng Pos di kantor Stasiun Meteorologi, kompleks Bandara Tjilik Riwut Palangka Raya.

Daerah yang berpotensi memasuki puncak musim hujan pada Desember meliputi bagian barat dan bagian timur Kalteng, seperti Kotim bagian utara, Katingan, Kobar bagian Utara, Seruyan bagian utara, Kobar bagian utara, Batara bagian timur, sebagian Barsel, Bartim, dan Kapuas bagian tengah. Sedangkan Kota Palangka Raya, kata Lian, puncak musim hujan diperkirakan terjadi pada Januari 2022.

Lian mengatakan, pihaknya beranggapan pada November ini wilayah Kalteng baru memasuki musim hujan. Dia menyebut, curah hujan normal di wilayah Kalteng antara 200 sampai 300 milimeter akumulasi dalam satu bulan. “Sedangkan pada masa puncak musim hujan, curah hujan diperkirakan antara 200 sampai 400 milimeter akumulasi dalam satu bulan," ujar perempuan yang sudah 11 tahun bertugas sebagai prakirawan cuaca di stasiun meteorologi.

Akibat tingginya curah hujan saat ini, BMKG mengingatkan kepada masyarakat yang tinggal di daerah rawan banjir maupun di daerah aliran sungai (DAS) atau muara sungai, selalu mewaspadai terjadinya banjir. “Masyarakat perlu waspada terjadinya luapan air di wilayah sepanjang aliran sungai," tegasnya. Potensi banjir, kata Lian, merata di seluruh wilayah Kalteng, karena curah hujan yang tinggi merata di seluruh wilayah Kalteng.

Karena itulah, BMKG melalui Stasiun Meteorologi Kelas I Tjilik Riwut Palangka Raya maupun stasiun meteorologi lainnya yang ada di Kalteng, mengingatkan kepada masyarakat untuk mewaspadai dampak yang bisa timbul akibat kondisi cuaca seperti saat ini.

“Seluruh wilayah Kalteng perlu mewaspadai potensi hujan sedang hingga lebat yang disertai petir dan angin kencang. Karena itu kami imbau masyarakat untuk tetap berhati-hati, karena bisa saja terjadi banjir, tanah longsor, atau pohon tumbang," ujarnya.

Pihak BMKG akan terus menyampaikan informasi dan peringatan kepada masyarakat terkait kondisi cuaca di wilayah Kalteng dan Indonesia umumnya. Masyarakat yang ingin mengetahui informasi terkait kondisi cuaca di wilayah Kalteng, bisa melalui media sosial WhatsApp grup atau aplikasi khusus BMKG terkait informasi cuaca.

“Bila ada wilayah yang berpotensi terjadi cuaca ekstrem atau hujan sedang hingga lebat, biasanya kami akan langsung memberi informasi dan menyebarkan peringatan dini," pungkasnya.

Beberapa wilayah di Kalteng akhir-akhir ini mulai diguyur hujan. Beberapa daerah pun mulai terdampak banjir. Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Badan Penanggulangan Bencana dan Pemadam Kebakaran (BP-BPK) Kalteng Erlin Hardi menyebut, setiap daerah harus waspada terhadap kemungkinan terjadinya bencana banjir.

“Kami sudah sampaikan ke kabupaten/kota untuk siaga banjir dan memaksimalkan sumber daya yang ada di daerah,” katanya saat dibincangi, Senin (8/11). Ia menyebut, terhadap beberapa daerah yang terdampak banjir, hingga saat ini aktivitas masyarakat masih berjalan baik. Ada empat kabupaten yang dilaporkan sudah ada titik banjir, yakni Kabupaten Pulang Pisau, Murung Raya, Katingan, dan Kotawaringin Barat.

Diungkapkannya, berdasarkan laporan yang diterima per Minggu (7/11), banjir di Pulang Pisau terjadi di wilayah Kahayan Tengah, khususnya di jalur trans Kalimantan, Desa Penda Barania dan Desa Bukit Rawi. Panjang jalan yang terendam kurang lebih 1,2 kilometer, dengan ketinggian air mencapai 27 sentimeter. “Kendaraan roda dua hanya bisa melintas dengan menggunakan jasa kelotok,” katanya.

Titik lain yang terpantau yakni di Kecamatan Banama Tingang, Desa Hanua, dengan total yang terdampak 86 KK, dan terdiri dari 304 jiwa. Tinggi air yang awalnya 50 sentimeter meningkat jadi 67 sentimeter. Banjir juga melanda Desa Ramang dengan jumlah terdampak 76 KK dan 281 jiwa, dengan ketinggian genangan air 40-65 sentimeter.

“Upaya yang dilakukan oleh BPBDP Pulang Pisau yakni melakukan pemantauan dan pendataan serta berkoordinasi dengan pihak kecamatan yang wilayahnya terdampak banjir,” sebutnya.

Sementara, banjir di wilayah Kabupaten Murung Raya menggenangi Desa Sungai Gula, Kecamatan Permata Intan. BPBD setempat pun sudah melakukan pemantauan dan berkoordinasi dengan pihak kecamatan terdampak banjir.

Banjir di wilayah Katingan terjadi di ruas jalan Desa Tumbang Hiran, Kecamatan Marikit sampai Kelurahan Tumbang Sanamang, Kecamatan Katingan Hulu. Akses jalan terputus sekitar 25 hingga 30 meter dengan kedalaman air 70 hingga 100 sentimeter. Di Kelurahan Tumbang Sanamang, tinggi air mancapai 60 sentimeter.

“Upaya yang dilakukan BPBD Kabupaten Katingan yakni dengan melakukan pemantauan dan berkoordinasi dengan pihak kecamatan terdampak banjir,” tegasnya. Banjir di Kabupaten Kotawaringin Barat terjadi di Kelurahan Pangkut, Kecamatan Arut Utara. Sejauh ini masih dalam pendataan BPBD Kobar melalui pemantauan dan koordinasi dengan pihak kecamatan yang wilayahnya terdampak.(sja/abw/eri/ce/ala)