PALANGKA RAYA-Sirene ambulans yang lalu-lalang setiap petang jarang terdengar lagi melintas di Jalan Tjilik Riwut, Kota Palangka Raya. Tak seperti pada Juli dan Agustus lalu. Ambulans yang membawa jenazah pasien Covid-19 silih berganti menuju pemakaman umum di Km 12. Bahkan pada 10 Agustus lalu, pernah tercatat ada 29 orang meninggal dalam sehari di Kalteng dan 10 orang di antaranya di Palangka Raya. Kala itu, tenaga pemulasaraan jenazah benar-benar kewalahan. Baik yang menangani pasien meninggal di rumah sakit, maupun warga yang meninggal saat menjalani isolasi mandiri di rumah masing-masing. Dua bulan berlalu, kondisi Bumi Tambun Bungai yang awalnya berisiko tinggi penularan Covid-19 atau zona merah, perlahan berubah menjadi daerah dengan penularan risiko rendah.

Berdasarkan data yang dihimpun Satuan Tugas (Satgas) Penanganan Covid-19 Provinsi Kalteng, hingga Minggu sore (31/10), data sebaran pasien Covid-19 di Kalteng hanya tersisa 49 orang. Jumlah ini menurun drastis dibandingkan dua bulan lalu yang mencapai 3.000-an pasien di 14 kabupaten/kota.

Saat ini, 49 pasien yang masih dalam tahap perawatan tersebar di 9 kabupaten/kota. Sedangkan lima kabupaten lainnya sudah zero atau nol pasien Covid-19. Mencakup Kabupaten Seruyan, Pulang Pisau, Barito Utara, Kotawaringin Timur, dan Lamandau.

Berdasarkan data Satgas Covid-19 Provinsi Kalteng, di Palangka Raya hanya ada 15 pasien yang masih dalam perawatan, tersebar di beberapa fasilitas kesehatan maupun yang menjalani isolasi mandiri.

Di RSUD Kota Palangka Raya, saat ini tak ada lagi pasien Covid-19 yang dirawat. Hal itu dibenarkan oleh Direktur RSUD Kota Palangka Raya dr Abram Sidi Winasis melalu Kepala Hubungan Masyarakat (Humas) dr Hendra Panguntaun.

“Ini tentunya dampak herd immunity yang meningkat, makanya orang terkonfirmasi positif pun menurun, tapi kita tetap wapsada, karena evaluasi pada Oktober lalu, rata-rata pasien Covid-19 tidak bergejala,” ungkapnya, kemarin.

Sementara itu, Ketua Harian Satuan Tugas (Satgas) Covid-19 Emi Abriyani mengungkapkan, capaian vaksinasi di Kota Palangka Raya berada pada angka 80,05 persen untuk dosis pertama dan 60,27 persen dosis kedua.

Meskipun angka vaksinasi meningkat dan angka sebaran kasus menurun, pihaknya tetap mengimbau masyarakat untuk tetap wajib mamakai masker dan menerapkan protokol kesehatan secara ketat.

“Kami tidak ingin adanya gelombang tiga sebaran Covid-19 di Kota ini, tetaplah menerapkan protokol kesehatan, apalagi saat ini kita masih berada dalam Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) level dua” pungkasnya.

Membaiknya kondisi Palangka Raya dan sejumlah kabupaten di Kalteng sejauh ini, tidak terlepas dari taatnya masyarakat dalam menjalankan protokol kesehatan serta gencarnya program vaksinasi yang dilakukan pemerintah bersama stakeholder terkait.

Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi Kalteng dr Suyuti Syamsul mengatakan, indikator kesehatan masyarakat Kalteng saat ini makin biak. Hal itu menyusul nihilnya kasus Covid-19 pada beberapa kabupaten.

"Penurunan angka kematian per 100.000 penduduk, angka konfirmasi positif per 100.000 juga menurun, jumlah rawat inap per 100.000 penduduk juga makin menurun," bebernya kepada Kalteng Pos, Minggu (31/10).

Sementara zona hijau itu, tambah Suyuti, menurut zonasi risiko, artinya tidak pernah ada kasus. Karena itu, Kalteng tidak bisa berada di zona hijau, karena semua kabupaten dan kota sudah pernah ada kasus.

"Mungkin yang tepat adalah Kalteng menuju PPKM level 1. Syaratnya, kabupaten harus mencapai vaksinasi 70% dan khusus lansia minimal 60%," ucapnya.

Daerah yang masih perlu didorong untuk vaksinasi adalah Barito Utara, Barito Selatan, Kapuas, Gunung Mas, Seruyan, dan Kotawaringin Timur. Nihilnya kasus pada beberapa daerah menunjukkan mulai terbentuknya kekebalan kelompok di tengah masyarakat. Meski demikian, cakupan vaksinasi harus terus didorong hingga mencapai minimal 70%.

Dihubungi terpisah, Ketua Harian Satgas Covid-19 Kalteng Erlin Hardi mewanti-wanti masyarakat untuk tidak lengah menerapkan protokol kesehatan dalam aktivitas sehari-hari.

“Kalau masalah yakin (bebas Covid-19) atau tidak, kita harus punya keyakinan, sejauh masyarakat juga mengikuti aturan dan anjuran pemerintah,” kata Erlin Hardi saat dikonfirmasi, Minggu (31/10).

Menurutnya, kunci utama ada pada disiplin penerapan protokol kesehatan. Selain itu, vaksinasi oleh pemerintah harus dimaksimalkan.

Sementara itu, Ketua Persatuan Ahli Epidemiologi Indonesia (PAEI) Kalteng Rini Fortina menyebut bahwa pihaknya masih mengolah data perkembangan kasus sepekan terakhir. “Kesimpulan untuk data minggu ini belum ada, karena datanya masuk sampai Minggu, kasusnya memang sangat kecil,” ujarnya. (ahm/abw/nue/ce/ala)