Lurah Kameloh Baru Rulissantie saat ditemui di kantornya mengatakan, pada dasarnya pihaknya mendukung pelaksanaan kegiatan sekolah yang dilaksanakan oleh SDN 1 Kameloh Baru ini. Melihat kondisi kelurahan ini yang tidak memiliki sinyal, jangankan di kampung, sinyal di kanal saja tidak susah. “Saya justru merasa bersyukur karena guru-guru ini mau meluangkan waktunya, walaupun itu hanya dua kali dalam satu minggu,” katanya.

Lantaran, apabila pendidikan dipaksanakan secara daring otomatis tidak bisa berjalan. Jika dibiarkan begitu saja bagaimana nasib anak-anak. Wilayah Kameloh Baru ini tidak bisa diikutsertakan dengan program pendidikan online.

“Jangankan untuk akses internet, untuk menelepon saja susah,” katanya. Dijelaskannya, infrastruktur di Kameloh Baru ini, dari kanal menuju kampung itu pernah dibangun jembatan pada 2013 lalu dulu. Mobil saja bisa tembus apabila dalam kondisi kemarau, namun dengan sering terjadinya hujan dan banjir maka badan jembatan terkikis air dan longsor, akhirnya jalan terputus dan jembatan itu pun saat ini hingga saat ini tidak bisa difungsikan.

“Apabila kondisi peralihan musim, ketika jalur darat masih belum siap untuk dilewati dan jalur air sudah tidak bisa pula dimanfaatkan, maka masyarakat disana (kampung,red) terkurung,” katanya.

Tidak hanya masyarakat yang terkurung, siapapun yang memiliki kebutuhan ke wilayah tersebut seperti pendidikan juga tidak bisa dilaksanakan. Untuk itu, masyarakat terlebih dahulu harus membersihkan jalan darat yang merupakan rawa-rawa tersebut dari tumbuhan tumbuhan berduri yang selama ini hidup ketika air tinggi. Hal ini dilakukan agar aktivitas antara masyarakat kampung ke kanal ataupun sebaliknya bisa berjalan lagi.

“Jika tidak demikian, maka masyarakat di sana terkurung, para guru tidak bisa melewati jalan tersebut dan tidak bisa mengajar di sekolah,” tegasnya. Perempuan yang baru dua minggu menjabat sebagai lurah ini mengatakan, kondisi ini terus terjadi setiap tahun, apabila terjadi peralihan musim. Padahal jalan merupakan suatu hal yang harus diutamakan karena merupakan jantung daripada kehidupan masyarakat.

“Kami akan segera mengajukan hal, meski sebelumnya sudah pernah dilakukan pengajuan terkait penanganan jalan ini, kami akan meminta kepada gubernur atau pihak-pihak yang bisa dimintai pertolongan agar ada penanganan terkait infrastruktur di Kameloh Baru ini,” bebernya.

Belum lama ini juga pihaknya sudah mengajukan lampu jalan karena dari sepanjang jalan menuju kelurahan ini ini tidak ada lampu penerangan. “Mudah-mudahan terealisasi, kemudian saya juga nanti akan meminta terkait penanganan jalan ini,” tegasnya.

Dulu, lanjut dia, jalan ini pernah dibangun titian yang terbuat dari kayu, namun hancur bahkan bekas dari pada titian itu menyusahkan masyarakat karena kayu-kayu tumpukan kayu itu tidak tidak bisa dilewati. ia menyebut dari pintu masuk kelurahan ini menuju kampung sekitar empat kilometer, dari jalan ke kelurahan sepanjang satu kilometer, tiga kilometer jalan darat terputus.

“Sehingga aktivitas masyarakat harus menggunakan jalur sungai yang melewati irigasi buatan yang bersumber dari Sungai Sebangau ini,” jawabnya. Namun, juga menjadi dilematis. Saat musim hujan masyarakat diuntungkan karena tersedianya jalur akses air. Namun dengan kelebihan debit air menyusahkan masyarakat menangkap ikan. Saat kemarau, ikan melimpah namun akses jalan terputus, mereka harus terkurung.

Rulissantie menyebut, kelurahan ini terdiri dari satu RW dengan lima RT di dalamnya. RT 1 dan 2 berada di kampung, bantaran sungai. RT 3 berada di seberang sungai dan RT 4 dan 5 berada di kanal ini. Berpenduduk sekitar 800 jiwa dengan mata pencaharian rata-rata nelayan.

"Untuk fasilitas keagamaan ada dua masjid, satu dikenal dan satu di perkampungan, satu musala di seberang yakni di RT 3,” singkatnya. Sementara itu, berkenaan dengan kesehatan dan air bersih di wilayah, ini untuk air di kanal atau di RT 4 dan 5 ini menggunakan sumur. Sedangkan di bantaran sungai baik RT 1, 2 dan 3 menggunakan air sungai. Kecuali untuk konsumsi makanan dan minuman mereka membeli dari pedagang yang berjualan di sungai yang informasinya air isi ulang Tangkiling.

“Berkenaan dengan kesehatan di kelurahan ini memiliki satu puskesmas pembantu (Pustu), yang terletak di kampung dan memiliki dua bidan, mereka aktif setiap hari datang ke kampung, baik orang di kanal maupun di kamupung menggunakan layanan fasilitas kesehatan di pustu ini,” katanya.

Berkenaan pandemi Covid-19, saat ini memang nol kasus, memang ada di awal-awal pandemi Covid-19 dan saat ini tidak pernah ada lagi. Mengingat mobilitas masyarakat di kelurahan ini juga tidak banyak yang keluar masuk, para nelayan menjual hasil tangkapan ikannya ke salah satu penampung dan penampung itulah yang harus keluar menjual ke kota.

“Sehingga aktivitas dan mobilitas masyarakat di sini tidak begitu tinggi, di sisi lain juga taat prokes. Bahkan di kelurahan ini juga ada posko PPKM dan rutin dilakukan pemantauan oleh satgas Covid-19, juga sosialisasi kepada masyarakat terhadap penanganan Covid-19,” pungkasnya.

Terpisah, salah satu pelaku usaha antar dan sewa kelotok Ujik Amir mengatakan, ia berusaha jasa kelotok ini dari 2004 lalu. Berawal dari kepemilikan satu kelotok hingga saat ini ia memiliki lima kelotok. “Para guru dan bidan transit di rumah saya, saya juga menjaga kelotok-kelotok sekolah ini di dermaga,” katanya.

Sebagai jasa sewa kelotok ia mampu meraup untuk dari penarikan kepala pelanggan Rp100 ribu untuk pulang pergi (PP). termasuk, ia juga melayani jasa sewa kelotok bagi para pemancing. “Jika mengantar orang mancing Rp100 PP atau Rp100 jika disewa kelotok sehari penuh,” katanya.

Jika kemarau, ia mendapat untung karena banyak para pemancing yang menyewa kelotoknya dengan omset hingga Rp1 juta per hari. Jika musim hujan tidak ada para pelanggan memancing. “Sehari-hari saya juga mencari ikan mbak,” tutupnya. (ram)