Sajidin yang sudah mengabdi menjadi guru sejak 1990 ini menjabarkan, pelaksanaan kegiatan belajar mengajar sebelum pandemi Covid-19 dilaksanakan dari Senin hingga Sabtu. Pembelajaran dilaksanakan dalam kondisi apapun.

 “Bahkan dalam kondisi banjir pun kami tetap turun, seperti kejadian banjir yang belum lama ini terjadi. Pernah sekolah kami itu banjir hampir satu jengkal dari lantai, kami tetap masuk dan melaksanakan pembelajaran tatap muka seperti biasa,” kata dia.

Dikatakannya, para murid tidak pernah mengeluh dengan kondisi ini, karena sudah terbiasa. Mereka antusias melihat semangat para guru. Keterbatasan akses maupun transportasi tidak menjadi alasan bagi mereka untuk malas ke sekolah.

"Namun semenjak terjadi pandemi Covid-19, tidak dilaksanakan pembelajaran tatap muka (PTM),” sebutnya. Pihak sekolah memutuskan untuk memberikan tugas kepada para murid untuk dikerjakan di rumah masing-masing. Setiap Senin dan Kamis dikumpulkan ke sekolah. Inilah satu-satunya cara yang bisa ditempuh, karena wilayah tersebut belum terjangkau sinyal internet sehingga tidak memungkinkan untuk pembelajaran daring.

“Kebijakan ini diambil berdasarkan kesepakatan antara guru dan pengawas, karena kami prihatin terhadap pendidikan anak-anak jika sama sekali tidak ada pembelajaran selama pandemi, minimal diberikan tugas,” ujarnya.

Terlebih, di wilayah ini tidak ada taman kanak-kanak (TK), sehingga pembelajaran dasar seperti baca, tulis, dan menghitung (calistung) dilaksanakan ketika duduk di bangku kelas satu dan dua. Lantas bagaimana mengajari anak-anak yang demikian?

“Tentu hal ini juga menjadi kendala, karena hampir dua tahun ini anak-anak tidak melaksanakan pertemuan tatap muka. Tentu pelaksanaan pendidikan selama pandemi ini tidak maksimal kepada peserta didik,” kata pria berpangkat golongan IV b ini.

Padahal, di sekolah ini tidak pernah sekalipun ada guru maupun murid yang terpapar Covid-19. Guru-guru yang domisilinya di luar Kameloh Baru sudah memastikan datang ke sekolah dalam keadaan sehat. Jika ada yang sedang sakit, tentunya akan mengajukan izin.

Sementara itu, salah satu guru pengajar Syahruddin mengatakan, ia yang beralamatkan di Jalan RTA Milono Kota Palangka Raya harus berangkat pukul 06.00 WIB dari rumahnya. Sekira pukul 06.30 WIB sudah berkumpul di dermaga dan bersiap bertolak ke kampung.

“Kalau satu kelotok sudah penuh (penumpang), langsung berangkat, yang lain menyusul,” katanya. Ia menyebut, setengah guru di sekolah ini separuh merupakan pindahan dan separuh pengangkatan pada SK awal CPNS. Sebelumnya ia memang sudah merasakan mengajar pad sekolah dengan kondisi seperti ini.

“Tetapi dulu memang di sini ada jalan darat, ada jembatan yang dibangun kurang lebih 200 meter, tapi jembatan ini putus, jalan ini memang dibangun oleh pemerintah, tapi setelah itu tidak ada perawatan, sehingga saat musim banjir, sebagian tanah ambruk, dan akhirnya ditumbuhi semak-semak berduri,” beber pria kelahiran Tumbang Lahang, 11 Agustus 1968 ini.

Hal ini, lanjut dia, menjadi persoalan, jika terjadi peralihan muslim karena tidak bisa dilewati. Terpaksa harus jalan kaki, karena kondisi tanah belum siap untuk dilewati, sedangkan kondisi air juga tidak bisa dilewati untuk kelotok. Bahkan guru-guru ini juga pernah menempuh perjalanan kaki dengan jarak sekitar 3 kilometer.

“Kecuali saat tanah sudah betul-betul kering, maka sudah bisa dilewati, tapi memang jarak tempuh menggunakan jalur darat dengan jalur air sama saja, sekitar 30 menit,” tuturnya. Hal yang sama juga dirasakan Dariswatie, guru perempuan yang sedari awal ditempatkan di SD ini. Sebelumnya ia bekerja sebagai honorer pada salah satu sekolah swasta di Kota Palangka Raya.

“Awalnya memang saya mengeluhkan kondisi ini, tetapi karena dapat motivasi dari guru lain, saya coba menikmati, dan kini saya sudah nyaman menjalani,” kata perempuan yang mengaku tinggal di Jalan Tingang, Kota Palangka Raya ini.

Sementara itu, salah satu satu wali murid, Rupi’ah yang bertempat tinggal di kanal mengatakannya, lebih memilih anaknya pergi ke sekolah di tengah kondisi pandemi ini daripada harus belajar di rumah. Mengingat pembelajaran dilaksanakan di rumah tidak maksimal, karena orang tua tidak bisa memberikan pendampingan sebagaimana yang dilakukan para guru di sekolah.

“Kalau di sekolah anak-anak bisa belajar dengan gurunya, tapi kalau di rumah lebih banyak bermain,” ucapnya. Terlebih, kata dia, orang tua di rumah tidak bisa maksimal karena harus menyelesaikan pekerjaan yang lain. Ibu dua anak ini mengaku mendukung dan memberikan semangat kepada anak-anaknya untuk sepenuhnya mengenyam pendidikan meski dalam kondisi keterbatasan seperti ini.

“Anak saya kelas tiga, sebelum pandemi saya yang mengantar anak saya menggunakan kelotok, suami saya kerja mencari ikan,” jawabnya.