Akses jalan menjadi jantung kehidupan masyarakat. Terutama bagi peserta didik yang berangkat dan pulang sekolah. Beginilah kisah perjuangan para pejuang pendidikan di Kameloh Baru.

 

ANISA B WAHDAH, Palangka Raya

 

SEJUMLAH kelotok (perahu kayu bermesin) terparkir tak beraturan di irigasi buatan. Bergoyang pelan mengikuti arus air yang mengalir lamban. Tampar pengikat perahu kayu itu mencegahnya hanyut pada saluran dengan lebar sekitar lebih sepuluh meter itu.

Suara canda dan tawa terdengar dari sekelompok anak yang menggendong tas. Menggunakan pakaian bebas rapi dan bersepatu. Masker menutup hidung dan mulut.

Satu per satu, perempuan dan laki-laki dewasa juga datang. Memarkirkan kendaraan roda dua di tempat penitipan, tepat di seberang dermaga kecil berwarna biru di mana anak-anak berkumpul. Mengenakan pakaian rapi. Celana kain hitam dan baju berkerah.

Pria paruh baya duduk di bangku kayu menyilangkan kaki, berdiri mengangkat tas hitamnya. Perempuan berkerudung memasang rompi pelampung. Satu per satu bergerak meninggalkan titik kumpul di parkiran motor itu. Menuju deretan perahu mesin yang terparkir.

Mereka melangkah ke dua perahu, melepaskan tali dan naik bergantian. Tak ada aba-aba. Anak-anak yang sedari tadi di atas dermaga turun dan bergabung menaiki perahu-perahu itu. Seorang pria paruh baya menarik tali, mencoba menghidupkan mesin kelotok. Kemudian meluncur meninggalkan dermaga.

Awan cerah pagi itu mengiringi keberangkatan mereka. Dermaga Penyeberangan Kameloh Baru menjadi telinga perbincangan anak-anak itu. Perahu-perahu kayu pun jadi saksi perjuangan para guru dan murid Sekolah Dasar Negeri (SDN) 1 Kameloh Baru, Kecamatan Sebangau, Kota Palangka Raya.

Bertolak dari kanal, mereka menyebutnya sebagai pengganti kata titik induk Kelurahan Kameloh Baru. Sebuah kelurahan yang ada di Kecamatan Sebangau, Kota Palangka Raya. Bukan kelurahan yang berada di daerah terpencil, tapi yang lokasinya berada di ibu kota provinsi. Dari Kota Palangka Raya, hanya perlu 30 menit untuk sampai ke lokasi itu. Beralamatkan di Jalan Mahir-Mahar Kilometer 19,5 Kota Palangka Raya. Kantor kelurahannya berada di sisi kiri jalan dari arah kota. Masuk sekitar kurang lebih satu kilometer.

Jalan menuju kantor kelurahan berupa tanah timbunan. Pada sisi kiri ada irigasi buatan yang cukup lebar. Rumah-rumah penduduk pun lumayan padat sampai di kantor kelurahan. Selebihnya, sepi. Tak ada rumah terbangun. Kelurahan ini terbagi menjadi tiga bagian wilayah. Pertama di kanal. Kedua di bantaran Sungai Kahayan. Dan ketiga di seberang sungai.

Bukan menjadi masalah sebetulnya. Hanya saja, dari kanal menuju titik kedua, akses jalan putus. Jembatan yang dibangun pada 2013 lalu tidak bisa digunakan. Alasan inilah para pejuang pendidikan harus menempuh jalur air, demi sampai ke sekolah yang berada di wilayah kedua kelurahan ini. Diperparah lagi karena banjir masih menggenangi akses jalan darat.

Mau tak mau harus menempuh jalur air yang penuh risiko. Butuh setengah jam untuk sampai ke sana. Di permukiman itu dibangun SDN 1 Kameloh Baru yang bergabung dengan Sekolah Menengah Pertama (SMP) Satu Atap 3 Palangka Raya dan Sekolah Menengah Atas (SMA) Negeri 8 Palangka Raya.

Dua rombongan kelotok ini tiba di tempat yang juga menjadi saksi dan akan menjadi sejarah bagi para murid. Di sinilah ia mengenyam pendidikan dasar. Menjadi saksi para guru, karena di sinilah mereka berjuang menjadi penyalur ilmu kepada generasi penerus. Dua perahu ini diparkir tepat berada di bawah sisi kanan kantor kecil terbuat dari kayu. Kantor SDN 1 Kameloh Baru. “Mari mbak, silakan masuk,” pria paruh baya yang menjadi kemudi kelotok itu mempersilakan saya (penulis) masuk.

“Ini kantor kami, kantor kepala sekolah dan tujuh guru yang mengajar di SD ini,” ujar Muhamad Sajidin, pengemudi kelotok itu ternyata merupakan kepala sekolah SD ini.

Begitu ramah menyambut kedatangan saya. Memperkenalkan satu per satu guru yang tidak lebih dari sepuluh orang itu. Dua guru berasal dari Kelurahan Kalampangan, Kecamatan Sebangau, termasuk dirinya. Tidak jauh dari Kelurahan Kameloh Baru. Selebihnya, enam guru beralamatkan di Kota Palangka Raya.

Sajidin yang merupakan kepala sekolah ketiga di sekolah ini menceritakan awal mula berdirinya sekolah yang dipimpinnya itu. Didirikan pertama kali pada 1979 lalu, dengan fasilitas tiga ruang dan satu rumah dinas. Jika melihat sejarah, sekolah ini awalnya dinakhodai oleh satu guru merangkap kepala sekolah.

"Dulu sistemnya hanya modul, tapi memang pertama didirikan sudah sekolah dengan tiga guru saat itu, yakni kepala sekolah dan istrinya dan salah satu guru yang berasal dari Kameloh baru ini," bebernya.

Pria kelahiran Kediri Jawa Timur ini mengaku, sejak 1979 hingga saat ini terus ada peningkatan. Baik soal infrastruktur hingga jumlah pengajar. Mulai hanya dibangun dengan tiga ruang dan terus berkembang hingga seluruh ruangan kelas terpenuhi. Guru yang saat itu hanya tiga dengan kepala sekolah, saat ini sudah ada tujuh guru pengajar dan satu kepala sekolah.

“Hanya saja masih ada kekurangan satu guru yakni guru agama, jadi saya sebagai kepala sekolah merangkap jadi guru agama di sini,” katanya kepada Kalteng Pos.

Ia menyebut, delapan guru yang mengajar di sekolah ini berstatus pegawai negeri sipil (PNS). Namun tidak satu pun guru yang berasal dari Kameloh Baru. Total muridnya berjumlah 76 orang. “Rata-rata jumlah murid per kelas delapan, sebelas, hingga empat belas orang. Untuk usia anak sekolah, rata-rata di sini semua bersekolah, kami selalu menampung, tapi ada juga yang tidak lanjut ke jenjang SMP,” sebutnya.

Sekolah ini tidak memiliki ruang khusus untuk kantor, baik kantor kepala sekolah maupun kantor guru. Bangunan yang saat ini digunakan sebagai kantor dan ruang guru merupakan bekas rumah dinas. Saat ini pihaknya sedang dalam pengajuan untuk pembangunan kantor guru.

"Tetapi sebelum kami buat pengajuan, terlebih dahulu harus punya lahan untuk pembangunan nanti,” ucapnya. Melihat kondisi tanah yang merupakan hibah untuk sekolah ini tidak terukur rapi, tetapi berkotak-kotak, maka ada beberapa bagian tanah yang menjadi milik masyarakat. Untuk itu, dalam rangka mewujudkan keinginannya memiliki ruang guru, para guru harus menyelesaikan tanah yang akan dibangun sebagai ruang guru tersebut.

“Akhirnya kami putuskan untuk beli tanah milik warga yang posisinya masuk ke wilayah sekolah. Kami beli menggunakan uang hasil para guru,” kata pria yang lahir 5 Mei 1968 ini.

 Mereka rela menyisihkan uang untuk mewujudkan ruang guru pada sekolah yang berukuran 60x40 meter. “Tidak tahu gimana ceritanya, dulu tanah hibah yang diberikan sudah terpotong-potong, sehingga ada beberapa bagian yang jadi milik warga. Karena kami sangat ingin punya kantor, maka kami harus mengeluarkan uang pribadi, tidak masalah, insyaallah menjadi berkah,” katanya.

Pria 53 tahun ini mengatakan, ia merupakan guru pindahan yang betugas di SD ini pada tahun sekira 1999 atau tahun 2000 yang lalu. Berawal menjadi guru biasa, hingga akhirnya dipercayakan menjabat kepala sekolah. “Saat pertama saya datang, saya harus membelah hutan sendirian, karena saat itu belum ada kanal dan tidak ada penduduknya,” katanya.

Infrastruktur jalan hingga bangunan sekolah memprihatinkan. Beberapa tahun kemudian, dibangunlah kanal. Ia pun bisa transit di kanal untuk melewati jalur darat atau jalur sungai menuju sekolah ini.

“Setelah ada kanal maka transit kami dari rumah menuju sekolah ini di dermaga penyeberangan,” ujarnya. Dia mengatakan, memang bukan hal yang mudah, tapi harus dijalani. Sehari-hari melalui jalur sungai untuk bisa sampai di sekolah. Menggunakan kelotok atau perahu bermesin yang merupakan satu hibah dari guru pertama di sini dan satu lagi iuran para guru-guru lainnya.

“Memang untuk bensin kelotok ini menggunakan anggaran dana BOS, tapi apabila ada kerusakan bodi maupun mesin, sewa perbaikannya menggunakan iuran bersama para guru,” tutur Sajidin.

Sedangkan untuk transportasi anak-anak sekolah, memang ada beberapa yang swadaya sendiri. Ada beberapa yang harus ikut bersama para guru, baik berangkat maupun pulang. Terkadang juga kelebihan muatan, maka dititipkan pada rombongan SMP atau SMA. “Meski kami harus menempuh jalur darat anak-anak ikut dengan kami, terkadang memang menjadi kekhawatiran kami, saat anak-anak ikut kami tentu juga harus menjaga keselamatan mereka. Jangan sampai kita juga disalahkan apabila terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, tetapi alhamdulillah hingga saat ini semua berjalan aman,” beber Sajidin.

Ia mengaku, memang penuh perjuangan untuk singgah di lokasi ini. Apabila musim hujan tiba, aktivitas bisa dilaksanakan melalui akses jalur air. Dan ini dianggap cukup mudah. Namun yang menjadi permasalahan adalah saat peralihan musim hujan ke musim kemarau.

"Apabila peralihan dari musim hujan ke musim kemarau, sungai sudah tidak memiliki air dan tidak bisa dilalui kelotok. Jalur darat pun juga belum siap untuk dilewati karena masih basah dan belum kering,” kisahnya. Pada kondisi demikian, mau tak mau guru maupun murid-murid harus melewati jalur darat. Terlebih dahulu mereka bersama masyarakat melakukan gotong-royong membersihkan jalur darat, karena banyak duri dan pepohonan, mengingat jalur darat yang terendam banjir merupakan area rawa. "Seminggu penuh kami bersama masyarakat harus gotong-royong sebelum melaksanakan aktivitas belajar mengajar,” katanya. (ram)