Tak mudah bercocok tanam di lahan gambut. Sebab, tidak semua jenis tanaman bisa tumbuh dengan subur. Namun, Slamet Riyadi merupakan satu dari sebagian petani yang berhasil mengubah hamparan gambut menjadi lahan produktif. Bahkan kebun buah yang dikelolanya itu kini menjadi destinasi agrowisata.

 

AGUS JAYA, Palangka Raya

 

PENJUAL buah-buahan di Kota Palangka Raya sebagian besar masih mengandalkan suplai dari luar Kalteng. Di Kota Cantik ini tidak ada sentra perkebunan skala sedang hingga besar yang fokus mengembangkan perkebunan buah-buahan. Karena itu, buah-buahan seperti jeruk, lengkeng, apel, buah naga, jambu, anggur, semangka, melon, alpukat, dan lainnya masih mengandalkan suplai dari luar daerah.

Salah satu petani di Palangka Raya, Slamet Riyadi, mengaku prihatin. Kakek 72 tahun itupun mencoba memanfaatkan lahan gambut untuk menaman berbagai jenis buah yang biasa dijual di pasaran. 2011 lalu ia memulainya. Tak disangka percobaan yang dilakukannya berhasil. Tanaman buah yang ditanamnya bisa tumbuh subur walau di lahan gambut.

Kemudian muncul ide untuk menjadikan lahan gambut yang dikelolanya itu sebagai lokasi agrowisata. Kini ide itu terealisasi. Buah-buah segar sudah siap dipetik di tempat wisata kebun buah-buahan Cipta Rasa yang berlokasi di kawasan Jalan Manduhara, Kelurahan Kereng Bangkirai.

Slamet Riyadi pun menceritakan awal mula niatnya membangun kebun buah tersebut. Pria yang sehari-hari disapa Pak Slamet itu bercerita bahwa mulanya lahan itu merupakan tempat keluarganya menanam sayur untuk pemenuhan kebutuhan sehari hari.

“Pertamanya lokasi ini adalah tempat menanam sayur-mayur untuk menyambung hidup,” katanya saat berbincang dengan Kalteng Pos.

Pria yang mengaku berasal dari Kota Tulung Agung, Jawa Timur itu mengatakan, niatnya mengubah lahan yang dibelinya 2011 itu menjadi kebun buah karena ia sering melihat berbagai buah yang dijual di pasar kebanyakan dalam kondisi rusak dan tidak segar karena merupakan barang suplai dari luar Palangka Raya.

“Buah-buahan yang didatangkan dari luar Palangka Raya atau Kalteng, seperti dari Jawa, Sulawesi, atau Kalimantan Barat pada umumnya sudah mulai membusuk,” kata pria yang pernah ikut program tranmigrasi tahun 1982 ke Desa Pangkoh.

Berbekal pengalamannya yang sejak kecil bergelut dengan dunia pertanian, Slamet pun mulai menanam berbagai pohon buah-buahan di lahan yang dibelinta itu, dengan harapan masyarakat Kota Palangka Raya bisa mencicipi buah-buahan segar yang sulit ditemui di pasaran.

Selain karena prihatin dengan kondisi pasar buah buahan di kota kala itu, Slamet juga mengaku merasa tertantang untuk menanam berbagai macam pohon buah di atas tanah gambut. Sebab, sebagian besar orang mengatakan cukup sulit untuk buah-buahan bisa tumbuh pada lahan gambut.

“Saya ingin membuktikan kalau di tanah gambut ini buah buahan yang biasa kita datangkan dari luar Palangka Raya bisa tumbuh dengan baik dan subur seperti ini,” kata Slamet sembari menunjuk ke aneka pohon buah-buahan di lahan yang dikembangkannya itu.

Kerja keras dan ketekunan Slamet selama hampir 6 tahun merawat pohon buah-buahan itu akhirnya membawa hasil. Terciptalah kebun buah Cipta Rasa Bapak Slamet Riyadi. Saat ini kebun buah-buahan itu menjadi salah satu lokasi alternatif bagi warga Kota Palangka Raya untuk berwisata.

Di dalam kebun buah-buahan asri ini, selain bisa menikmati suasana perkebunan, pengunjung juga bisa melihat berbagai macam pohon buah segar. Karena selain berbagai pohon buah-buahan yang umum dikenal masyarakat, ada juga pohon buah-buahan yang jarang dikenal warga Kota Cantik, seperti pohon buah matoa dan pohon pisang dari daerah Banyuwangi yang tandannya bisa mencapai lebih dari tiga meter.

Pengunjung juga bisa membeli buah-buahan yang ada di taman wisata tersebut. Memilih dan memetik sendiri buah yang diinginkan, langsung dari pohonnya. Harganya juga sangat terjangkau.

Slamet terus berusaha agar berbagai pohon buah itu terus berbuah agar dapat dinikmati masyarakat yang berkunjung ke lokasi itu.

“Saya rasa di sini merupakan tempat wisata petik buah pertama yang ada di Kota Palangka Raya,” ujar pria yang mengaku hanya sempat mengenyam pendidikan setingkat SMP.

Ia menuturkan, selain sebagai lokasi agrowisata, kebun buah yang dikelolanya itu juga sering dikunjungi dan dijadikan tempat pelatihan terkait masalah perkebunan, baik oleh Dinas Pertanian Palangka Raya maupun para mahasiswa jurusan pertanian dari berbagai universitas yang ada di kota ini.

Selain itu warga yang punya hobi dan ingin belajar cara menanam pohon buah-buahan juga sering datang untuk berkonsultasi.

“Di sini warga juga bisa melihat dan belajar cara menanam pohon buah-buahan supaya bisa tumbuh subur,” ujarnya sambil menambahkan bahwa ia pun berharap kebun buah miliknya itu bisa menjadi tempat edukasi terkait masalah pertanian, khususnya tananam buah-buahan.

Bagi yang tertarik untuk datang ke kebun buah Cipta Rasa ini, akses masuknya gratis. “Tidak dipungut bayaran sama sekali, gratis, siapa saja bisa datang,” kata Slamet sembari menambahkan bahwa di taman wisata itu juga dilengkapi tempat bermain untuk anak, gazebo, dan balai pertemuan.

Slamet mengaku, semenjak muncul pandemi Covid-19 di Kota Cantik, jumlah pengunjung menurun drastis.

“Biasanya dulu di gazebo dan tempat pertemuan, terutama pada hari Sabtu dan Minggu, selalu penuh oleh pengunjung,” ujarnya.

Sepinya pengunjung turut memengaruhi pendapatan. Apalagi Slamet hanya mengandalkan kebun buah itu sebagai sumber penghasilan. “Karena masuk ke kebun ini saya gratiskan, parkir juga saya gratiskan, jadi saya cuman mengandalkan pendapatan dari penjualan buah-buahan,” ujarnya.

Slamet berharap agar pandemi Covid-19 ini segera berlalu agar usaha yang dikembangkannya bisa berjalan normal lagi. “Saya harap bencana Covid-19 ini bisa cepat tuntas supaya warga bisa datang lagi ke tempat wisata kebun buah seperti dulu-dulu,” tutupnya. (*/ce/ala)