Dahulu sebagian petani di wilayah Kecamatan Pandih Batu menanam padi. Sebelum bercocok tanam, mereka terlebih dahulu membuka lahan dengan cara membakar. Metode itu dinilai efektif dan ekonomis. Namun setelah ada larangan membakar lahan, para petani mencari jalan lain untuk memenuhi kebutuhan hiudup mereka. Salah satunya dengan beralih menanam kelapa sawit.

 

SUHARTOYO, Pulang Pisau

 

EKSISTENSI pertanian padi di wilayah Desa Kantan Atas, Talio Muara, dan Talio Hulu, Kecamatan Pandih Batu saat ini bisa dikatakan mengalami penurunan drastis. Petani di wilayah tersebut sudah ramai-ramai beralih ke pengembangan perkebunan kelapa sawit.

Larangan membuka lahan dengan cara membakar menjadi salah satu penyebab. “Dahulu membuka lahan dengan cara membakar, total potensi lahan yang bisa ditanami padi mencapai 1.500 hektare,” kata Sekretaris Desa Talio Hulu, Widodo.

Saat ini warga di desa tersebut telah mengurangi pembakaran lahan, karena sebagian besar lahan sudah dijadikan kebun kelapa sawit. “Namun petani tetap menanam padi sambil menunggu sawitnya produksi. Sawit ditanam di baluran, padi ditanam di sela-sela baluran,” kata dia.

Apa yang menjadi alasan petani lebih banyak beralih ke tanaman sawit? Menurut dia, kelapa sawit dianggap lebih ekonomis dan omzetnya menjanjikan. “Kelapa sawit sebulan dua kali panen, apalagi harga kelapa sawit saat ini sangat menjanjikan, di atas Rp2000 per kilogram,” ucapnya.

Lalu bagaimana nasib pertanian padi? Beberapa tahun terakhir ini, di Desa Talio Hulu dilakukan pengembangan padi pada lahan gambut yang dilakukan BRG. “Untuk pengembangan padi lahan gambut ada 250 hektare. Produksinya saat ini 2,5 ton sampai 4 ton per hektare,” ungkap dia.

Peralihan tanaman padi ke sektor perkebunan juga dilakukan secara masif oleh petani di Desa Talio Muara. “Dari data kami, saat ini hanya ada 15 hektare saja lahan yang ditanami padi unggul. Hampir semua petani beralih ke berkebun,” kata Kepala Desa Talio Muara, Marzuki.

Dia mengaku, dengan adanya peralihan itu, secara otomatis lahan petani akan terjaga dan terpelihara. “Insyaallah tidak ada kebakaran lahan di wilayah kami. Namun kami juga selalu memastikan sarana dan prasarana penanggulangan karhutla berfungsi dengan baik,” ungkap dia.

Petani di Desa Kantan Atas yang sebelumnya menanam padi, kini juga menjatuhkan pilihan untuk mengembangkan perkebunan kelapa sawit. “Dahulu kalau musim kemarau kami membuka lahan dengan cara dibakar, setelah itu ditanami padi, tapi sekarang beralih ke perkebunan kelapa sawit,” kata Sekretaris MPA Desa Kantan Atas, Stevanus Parwudi.

Terlebih produksi padi di wilayah tersebut terbilang rendah. “Sebagus-bagusnya padi di sini (Kantan Atas), produksinya tak sampai dua ton per hektare. Jika dibandingkan dengan kelapa sawit, pendapatan petani dari mengembangkan kebun kelapa sawit tentunya lebih baik, apalagi saat ini harga kepala sawit sangat bagus,” kata dia.

Dia mengaku, masyarakat Desa Kantan Atas mengenal budi daya kelapa sawit sejak 2008 lalu. Karena desa tersebut sebelumnya menjadi tempat pembibitan kelapa sawit dan sebagian besar masyarakat pernah bekerja di perkebunan kelapa sawit.

“Begitu ada larangan membakar lahan, masyarakat atau petani tertarik ke sawit, karena mereka sudah memiliki pengalaman,” tuturnya.

Menurut dia, budi daya padi juga memiliki kelemahan. “Padi itu tanaman yang tidak bisa membiayai dirinya sendiri. Kalau kelapa sawit dan karet bisa membiayai dirinya sendiri. Jadi produksi sawit bisa dibelikan pupuk dan herbisida untuk perawatan. Karena itu, menurut kami kelapa sawit lebih menguntungkan,” tandasnya.

Kendati demikian, masyarakat dan MPA di tiga desa tersebut selalu mengantisipasi ancaman kebakaran lahan di wilayah mereka. Termasuk rutin melakukan pengecekan dan perawatan terhadap sumur bor. (*/ce/ala)