Kalteng saat ini tengah dilanda dua bencana sekaligus, pandemi Covid-19 dan bencana alam banjir. Tak terkecuali Palangka Raya. Dengan menerapkan prokes yang ketat, para ibu yang tinggal sekitar dapur umum tanggap darurat banjir di Jalan Mendawai bersama petugas tiap hari sibuk menyiapkan makanan untuk para korban banjir.

 

ANISA B WAHDAH, Palangka Raya

 

TERLIHAT para petugas memakai seragam bertuliskan Tagana Kota Palangka Raya terus stand by di lokasi banjir, Jalan Mendawai, Kota Palangka Raya. Para petugas ini mendirikan posko dapur umum, mengolah makanan untuk dibagikan kepada masyarakat terdampak bencana banjir, khususnya di sekitar Jalan Mendawai.

Tak hanya para petugas. Para ibu juga turut membantu petugas. Ada yang memotong cabai, memotong buncis, dan lainnya. Tenda berukuran sedang yang dibangun itu menjadi tempat para ibu-ibu bergotong royong membantu petugas memasak.

Hilmi Zulkarnain selaku koordinator dapur umum tanggap darurat banjir mengatakan, pihaknya ditugaskan berada di lokasi bencana banjir pada salah satu titik di Kota Palangka Raya ini. Memilih tempat yang tepat untuk dibangun dapur umum dan tidak jauh dari masyarakat.

“Dapur umum ini akan terus berdiri dan membantu masyarakat sambil melihat perkembangan kondisi banjir, saat ini memang kondisi banjir sudah mulai surut,” ucapnya.

Dikatakan Hilmi, dapur umum ini menyediakan makanan untuk masyarakat sekitar Jalan Mendawai yang terdampak banjir. Sedangkan untuk warga yang juga terdampak, tapi masih bisa memasak, dapur umum hanya menyuplai bantuan bahan makanan.

"Tidak semua masyarakat terdampak mendapat nasi bungkus, bagi yang masih bisa memasak karena kondisi rumahnya tidak begitu parah terdampak, akan dibantu berupa suplai bahan pangannya," tuturnya kepada Kalteng Pos saat dibincangi di sela-sela kesibukan di dapur umum.

Dapur umum ini, lanjut dia, menyediakan 600 bungkus makanan untuk sehari. Sekali memasak sebanyak 300 bungkus. Makanan itu dibagikan untuk makan siang dan makan malam.

"Setelah makanan sudah selesai dimasak dan dibungkus, selanjutnya bungkusan makanan itu akan dibagikan oleh tim ke masyarakat sesuai data korban terdampak, bukan masyarakat yang datang mengambil ya," ujar dia.

Ia juga menyebut, sejak dapur umum ini dibangun pada Minggu lalu (12/9), masyarakat sangat antusias. Beberapa ibu datang membantu petugas mengolah makanan di dapur umum.

“Untuk bahan makanannya ada yang dari pemerintah provinsi, pemerintah kota, dan bantuan dari relawan serta donatur," bebernya.

Sementara itu, salah satu ibu bernama Rini mengatakan rutin datang ke dapur umum tiap pagi sekitar pukul 06.00 WIB, setelah menyelesaikan aktivitas di rumahnya. Usai sarapan, ia datang ke dapur umum untuk membantu petugas menyiapkan makanan yang akan dibagikan ke masyarakat siang hari.

"Dari awal dapur ini dibuka, saya selalu datang bantu memasak untuk makanan siang, tapi untuk makan malam tidak bantu,” ujarnya.

Demi membantu sesama warga yang terdampak banjir, ia memutuskan untuk mengganti jadwal belajar anaknya. Yang biasanya belajar pagi atau siang hari, diganti ke malam hari. Apalagi saat ini masyarakat tengah dilanda bencana nonalam pandemi Covid-19 dan bencana alam banjir. Karena itu, Rini menilai sudah sepatutnya saling membantu sesama, tapi dengan tetap disiplin menerapkan prokes.

“Sementara ini jam belajar anak pada malam hari, karena dari pukul 06.00 WIB sampai 09.00 WIB saya bantu di dapur umun ini. Mengenai menu masakan, setiap hari bervariasi, mulai dari telur hingga ayam, begitu pun dengan sayurnya,” tegasnya.

Ibu rumah tangga ini menyebut, sebelum 2018, tiap kali terjadi banjir tahunan, hanya jalan di depan rumahnya saja yang terendam air. Namun, lanjut dia, sejak 2018 lalu air mulai masuk ke rumah saat terjadi banjir.

“Rumah saya sempat terendam air dengan ketinggian di atas mata kaki selama lima hari, bersyukur saat ini sudah surut, hanya di jalan yang masih terendam,” tutupnya. (*/ce/ala)