Titik banjir di Kota Palangka Raya bertambah. Seperti yang terjadi di Kelurahan Kalampangan. Kondisi banjir dilaporlan terjadi kemarin pagi dengan ketinggian air mencapai lutut orang dewasa.

Kepala Badan Penanggulangan Bencana dan Pemadam Kebakaran (BPBPK) Kota Palangka Raya Emy Abriyani mengatakan, banjir di Kalampangan baru terjadi. Sementara di daerah lain seperti Kelurahan Palangka, tepatnya di Jalan Mendawai, air sudah mulai surut sekitar 10 hingga 15 cm.

“Ada penambahan titik lokasi banjir yakni di Kelurahan Kalampangan, tapi di Jalan Mendawai sudah mulai surut,” katanya saat dikonfirmasi Kalteng Pos, Senin (13/9).

Diungkapkannya, saat ini tercatat ada 13 kelurahan di ibu kota provinsi ini yang terdampak bencana banjir. Emy menyebut, banjir yang terjadi ini sebagai dampak dari banjir yang terjadi di wilayah hulu seperti Katingan dan Gunung Mas (Gumas). Begitupun banjir yang saat ini menggenangi Kelurahan Kalampangan merupakan kiriman dari Kelurahan Bereng Bengkel dan Kameloh Baru.

“Banjir di ibu kota ini kiriman dari hulu ke hilir, jadi kalau di hulunya banjir, maka dampakknya wilayah hilir juga banjir,” tuturnya.

Lebih lanjut ia mengatakan, daerah-daerah yang terletak di bantaran sungai berpotensi terendam air luapan sungai. Pihaknya berharap lima hari ke depan banjir yang terjad di sejumlah kelurahan itu surut.

“Saat ini kami sudah mendirikan posko, melayani kesehatan, mendirikan dapur umum, dan membantu mobilitas masyarakar, saat ini banyak juga warga yang meminta bantuan mengamankan barang-barang elektronik,” pungkasnya.

Kondisi banjir yang melanda beberapa titik di Kota Palangka Raya membuat kegiatan masyarakat terganggu. Contohnya, ketika ada warga yang meninggal dunia di daerah banjir. Ambulans yang digunakan untuk membawa jenazah tidak bisa mengantar sampai ke rumah duka. Terpaksa petugas dari TNI-Polri, BPBD, dan relawasan ERP bersama warga menerobos banjir menggunakan mobil pikap.

Babinsa Kelurahan Palangka Serda Sunardi yang turut membantu membawa jenazah menuju ambulans mengaku mendapat informasi bahwa warga bernama Syahruddin (44) meninggal dunia akibat sakit.

“Setelah dapat informasi, saya bersama rekan relawan, BPBD, hingga kepolisian langsung bergegas ke rumah duka, sekaligus membantu mengantar jenazah menuju ambulans. Namun karena area yang dilalui masih banjir, ambulans tidak bisa ke lokasi, akhirnya bersama warga kami membawa jenazah menggunakan mobil pikap," ucapnya.

Sementara itu, menurut penuturan Hidayati, suaminya meninggal karena menderita asam lambung beberapa hari belakangan. Dinyatakan meninggal dunia pada pukup 12.00 WIB. Rencananya jenazah akan dibawa ke Banjarmasin.

"Iya, sudah lama sakit asam lambung, tadi siang meninggal dan mau dimakamkan di Anjir, Banjarmasin, jenazah diantar dulu ke rumah keluarga di sana," tutupnya. (kaltengpos)