AKIBAT bencana banjir yang melanda wilayah Kabupaten Katingan, distribusi pasokan ayam pedaging ke masyarakat terhenti. Hal ini dikarenakan para peternak ayam dan sejumlah distributor tidak bisa mengirimkan ternak mereka ke wilayah tersebut karena akses terputus akibat adanya banjir, sehingga mobil pembawa pasokan ayam tidak bisa melintas.

“Saat ini mobil sudah tidak bisa lewat, kami sudah menghentikan pasokan ke wilayah Kasongan dan Kereng Pangi, karena terlalu berisiko,” kata Ketua Perhimpunan Insan Perunggasan Rakyat Indonesia (Pinsar) Kalteng Andi Bustan kepada Kalteng Pos, Rabu (8/9).

Andi menyebut, penghentian distribusi sudah berlangsung sejak tiga hari lalu. Diterangkan Andi, biasanya wilayah Kasongan dan Kereng Pangi menyerap sekitar 20 sampai 30 persen dari jumlah suplai pasokan produksi ayam di Kota Palangka Raya yang rata-rata mencapai 16 ribu ekor per hari.

“Jadi kurang lebih ada tiga ribuan (ekor) yang larinya ke arah sana (Kasongan dan Kereng Pangi),” ujarnya.

Menurut Andi, penghentian pengiriman ayam terpaksa dilakukan karena tingginya risiko yang dihadapi oleh para peternak ayam bila nekat mengirimkan ayam ke wilayah Katingan saat banjir seperti sekarang ini.

“Peternak bisa rugi karena tingginya kematian ayam selama perjalanan dari Palangka Raya ke pasar di daerah Kasongan dan Kereng Pangi, karena mobil yang membawa ayam menunggu antrean yang begitu lama di jalur jalan yang terputus oleh banjir,” terang Andi sembari menambahkan, apabila sepuluh persen saja ayam yang dibawa mati dalam perjalanan, maka peternak sudah menanggung kerugian yang sangat besar.

Belum lagi risiko lain yang dihadapi peternak jika membawa mobil dan menerjang banjir. Risiko kerusakan mobil dan lainnya pasti ada. Pertimbangan risiko inilah yang membuat para peternak dan distributor ayam di Kota Palangka Raya dan sekitarnya menghentikan sementara pengiriman ayam pedaging ke wilayah Katingan sampai kondisi membaik.

Akibat penghentian distribusi ayam dari Palangka Raya, lanjut Andi, besar kemungkinan terjadi kenaikan harga daging ayam di wilayah Katingan. “Masyarakat di sana mesti membeli ayam sisa-sisa dari pengirim sebelum banjir, tentunya dengan harga yang lebih tinggi dari harga normal,” ucapnya.

Berdasarkan keterangan Andi, sentra produksi ayam di Palangka Raya selama ini berasal dari sejumlah wilayah, antara lain Pulang Pisau dan Palangka Raya sendiri. Total produksi ayam dari dua wilayah tersebut sekitar 16 ribu ekor per hari.

Andi berharap banjir di wilayah Katingan segera surut, sehingga para peternak dapat kembali mengirimkan pasokan ayam ke wilayah tersebut. “Mudah-mudahan saja banjir ini tidak lama, hujan segera berkurang, air juga cepat surut, jadi pasokan (ayam, red) ke Katingan bisa normal lagi,” pungkasnya. (sja/ce/ala)