Untuk mencapai target meraih medali emas pada PON nanti, maka sangat dibutuhkan dukungan dari semua pihak. Dukungan yang diberikan dapat berupa perhatian terhadap sarana dan prasara (sarpras) latihan atlet, pemenuhan gizi, dan lainnya.

Bendahara PODSI Kalteng Meri Anitha selaku penanggung jawab bidang konsumsi mengatakan, sudah ada ahli gizi yang bertugas memperhatikan pemenuhan gizi atlet. Menu makanan harian para atlet disiapkan menyesuaikan anggaran yang ada.

“Selebihnya ada juga bantuan dari PODSI. Seyogianya atlet dayung itu harus lebih banyak mengonsumsi daging, tapi dengan anggaran yang tersedia ini, ya disesuaikan saja,” bebernya.

Tiap hari disiapkan menu berbeda-beda, seperti ikan, makanan berkuah, sayur-sayuran, dan lainnya. Pola makan teratur 3 kali sehari, diselingi snack 2 kali sehari dan susu.

“Kalau daging, rata-rata tiap akhir pekan. Menu untuk atlet kami kelola sendiri. Suplemen kami minta langsung dari bidang kesehatan dan mereka yang mengurusnya," lanjut Meri.

Terpisah, salah satu atlet dayung Kalteng, Poliansyah mengatakan bahwa program latihan yang sudah dijalani sejak Februari lalu dinilai cukup untuk persiapan menghadapi PON yang akan digelar di Papua nanti.

“Yang kami harapkan dari pengurus PODSI dan KONI Kalteng adalah tetap memperhatikan apa yang menjadi hak atlet, seperti uang saku,” katanya saat ditemui usai latihan di Sungai Kahayan, Pahandut Seberang, Jumat (11/6).

Sebelumnya Poliansyah bersama atlet lainnya pernah mengikuti pertemuan bersama Gubernur H Sugianto Sabran, serta dihadiri pengurus PODSI dan KONI.

“Itu kurang lebih dua bulan yang lalu, tapi sampai sekarang kami tidak tatu bagaimana kelanjutannya, begitu pun soal nasib kami,” tuturnya.

Dikatakan Poli –sapaan Poliansyah- hal yang menjadi keluhan utama pihaknya adalah keterbatasan sarana dan prasarana untuk latihan.

“Pelatih dan ofisial kan hanya memberikan program, tetapi tidak memahami kondisi yang berjalan di lapangan. Contohnya, soal perahu yang oleng atau bocor. Meski begitu tetap saja kami pakai. Bahkan ada yang inisiatif perbaiki sendiri. Perahu yang layak dipakai untuk latihan hanya 2 sampai 3 perahu saja. Bahkan saya sudah dua kali bikin kemudi sendiri," ucapnya.

Demi persiapan yang lebih matang, Poli bersama rekan-rekan atlet meminta perhatian serius dari pemerintah. Apalagi cabor dayung berpeluang besar mendapatka medali dalam ajang PON nanti.

“Kami pernah berencana untuk melakukan aksi turun ke jalan, tapi belum dilakukan, kami masih melihat situasi dan kondisi ke depan,” pungkasnya. (nue/ce/ala)