PANGKALAN BUN–Banjir sedang melanda beberapa desa di Kecamatan Arut Utara (Aruta). Wilayah yang memiliki jarak kurang lebih 180 km dari Kota Pangkalan Bun tersebut sedang “dikepung” banjir. Beberapa desa dinyatakan terisolir seperti Desa Nanga Mua, Gandis dan Desa Sukarame.

 Banjir di Aruta menjadi malapetaka yang selalu menghantui setiap musim hujan tiba. Tidak bisa dipungkiri. Padatnya aktivitas pertambangan dan perkebunan di wilayah yang berbatasan langsung dengan Kabupaten Seruyan tersebut menjadi salah satu pemicu “ganasnya” banjir melanda wilayah Aruta. Banjir diduga kerap kali terjadi akibat peralihan lahan.

Sehingga tidak ada kawasan untuk menahan air, alhasil ketika musim hujan tiba, sungai arut dan sungai-sungai kecil lainnya meluap hingga menenggalamkan rumah dan permukiman warga.

Camat Aruta Marwoto menyebut, banjir tersebut adalah dampak dari kegiatan perkebunan di Arut Utara dikarenakan kurang ada keseimbangan semuanya beralih fungsi. Sehingga wilayah Aruta dikepung banjir saat musim hujan terjadi.

“Saya pernah usulkan dibuat kanal yang besar sehingga air tidak tumpah semuanya ke sungai,” ucap Marwoto kepada wartawan usai menghadiri acara di rumah Betang Pasir Panjang, kemarin (10/12).

Marwoto tidak menampik, wilayah Aruta yang memiliki 15 ribu jiwa tersebut sebagian besar terbuka lahan perkebunan. Sehingga setiap tahun banjir selalu terjadi dan hampir 12 desa di Arut Utara terdampak banjir.

“Dari jumlah tersebut, 3.000 jiwa tinggal di bantaran Sungai terutama Kelurahan Pangkut sendiri, ini belum masuk bulan Januari tapi debit sungai terus naik, apalagi saat puncak penghujan nanti, saya sangat khawatir dengan masyarakat terutama yang tinggal di Kelurahan Pangkut, dan lagi saat ini saja akses jalan desa pun putus karena kedalaman air mencapai 1,5 meter,” ungkapnya.

Terpisah, Bupati Kobar Hj Nurhidayah mengatakan, masalah banjir di Aruta karena musiman sehingga sulit diprediksi. Oleh sebab itu, kata bupati, untuk mengatasi banjir tersebut maka perlu dilakukan penghijauan dan mengamankan sepadan sungai.

“Apalagi sudah ada Peraturan Daerah di mana 500 meter dari Sepadan sungai dilarang melakukan penebangan. Sepadan sungai akan kita tanam bambu, karena berdasarkan hasil penemuan terbaru tanaman bambu itu ternyata mampu menahan abrasi sepadan sungai dan menahan air,”ujar Nurhidayah usai mengikusi aksi gerakan penanaman 10.000 pohon di kawasan Sport Center, Pangkalan Bun.(ala/ram)