PROKAL.CO,

KARENA lokasi pondokan jemaah calon haji (JCH) asal Kalteng rata-rata relatif jauh, bus memang jadi pilihan pertama yang tak bisa dihindari. Penataan angkutan bus jemaah memang lebih baik. Tapi masalah ketidaksabaran jemaah, tetap menjadi salah satu faktor utama.

Panitia jemaah haji memang menyiapkan bus 24 jam. Setiap saat jemaah bisa pergi dan pulang ke Masjidil Haram, terutama waktu-waktu salat.

Ternyata, hampir semua negara yang pemondokan jemaahnya relatif jauh, menggunakan pola yang sama. Terminal Syib Amir sebagai terminal utama di kawasan Masjidil Haram, berjarak hanya sekitar 600 meter dari Masjidil Haram.

Menjelang wukuf di Arafah tanggal 22 Agustus atau 10 Zulhijah, hampir semua jemaah lebih memilih banyak istirahat di pondokan. Kalaupun keluar pondok, hanya untuk salat ke Masjidil Haram.

Ketua Kloter 14, Muhidin Arifin mengatakan, segenap jemaah lebih banyak istirahat menjelang puncak ibadah haji wukuf di Arafah. Sebaiknya, ibadah sunahnya dikurangi, seperti mengambil umrah menjelang puncak ibadah haji nanti. Sehingga saat wukuf nanti, kondisi jemaah betul-betul fit.

Sementara itu, ketua kloter, beberapa ketua regu, dan ketua rombongan rapat di Maktab, khusus membahas masalah dan rencana kegiatan melontar jamarat. Menurut Muhidin, untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan, ada beberapa waktu yang disepakati dilarang bagi jemaah haji Indonesia untuk melakukan pelontaran.