SAMPIT-Bencana banjir di Desa Sungai Ubar Mandiri dan Sudan, Kecamatan Cempaga Hulu merendam ratusan rumah, akibatnya aktifitas warga desa tersebut lumpuh total karena ruas jalan  desa tidak bisa dilintasi dengan kendaraan bermotor maupun mobil sebab ketinggian air sudah mencapai dada orang dewasa selain aktifas warga anak sekolah pun terpaksa harus meliburkan diri sejak tingga hari lalu .

Hal ini membuat anggota DPRD Kotim Syahbana, sangat prihatin akan musibah banjir tahun ini yang menimpa dua desa tersebut kendati pun banjir ini terjadi setiap tahun, namun tetap saja pemerintah daerah jangan sampai mengabaikan dua desa tersebut.‘’Dua desa tersebut memang setiap tahunnya langganan banjir akan tetapi  pemerintah daerah harus tanggap jangan sampai ada korban jiwa,’’ujar Syahbana saat dikonfirmasi Kamis (11/1)

Politisi Partai NasDem ini juga mengatakan dinas kesehatan dan badan penanggulangan bencana,  diharapkan mampu mengatasi bencana banjir ini dan pihaknya percaya karena anggaran sudah ada disiapkan . “Kita tau nanti pascabanjir pasti penyebaran penyakit rentan terjadi seperti diare dan lainnya, sehingga perlu Dinas Kesehatan dan BPBD Kotim terus meningkatkan kaordinasi, sehingga hal tersebut bisa ditangani dengan baik,’’tutupnya.

Sementara warga desa sungai ubar mandiri Jainal (38) mengatakan saat ini sekitar 100 rumah lebih yang terendam banjir, bahkan jalan menuju sekolah pun juga terendam sehingga anak-anak meliburkan diri.“Ada sekitar 100 rumah yang tenggelam dan anak-anak sekolah juga meliburkan diri karena jalan yang menuju sekolah pun tenggelam ketinggian airnya capai 1 meter lebih,’’sampai Jainal saat dibincangi di halaman DPRD Kotim.

Dirinya juga mengatakan belum ada tanda tanda air ini surut pasalnya kondisi cuaca masih terlihat mendung tidak menutup kemungkinan debet air bisa saja bertambah. “Desa Sungai Ubar dan Sudan sejak kemaren sudah banyak rumah yang tenggelam dan memang desa kami ini menjadi langganan banjir, namun yang jadi masalah kalau dulu tidak masalah banjir karena bisa mengunakan kelotok atau jukung untuk  berpergian sekarang kelotok itu tidak bisa lagi, karena aliran Sungai Ubar ini tidak bisa dilintasi akibat tertutup oleh popohonan hampir puluhan tahun tidak bisa dilewati kelotok, harapan kami perusahaan sekitar bisa membantu kedepanya untuk memepersihkan aliran sungai desa ini,"pungkasnya. (bah/ala/dar)